Showing posts with label Jawa Bijak. Show all posts
Showing posts with label Jawa Bijak. Show all posts

Tuesday, January 5, 2021

Tulung Lalekna

Aku ya mung sak pemberian
Sak derma kandha prasaja
Umpama nora mranani penggalihmu,
Tulung diapura

Aku ya mung sak pemberian
Sak pinjaman nglakoni garising gusti
Umpama lakuku nguciwani,
Tulung elikna

Aku ya mung sak pertolongan
Sak perlindungan peling lan pemut
Umpama tumpang suh nggonku kandha
Tulung lalekna




Sumber https://www.aansupriyanto.com/

Wednesday, December 30, 2020

Dupak Bujang, Esem Mantri & Semu Bupati

Ada hal yang menarik dikala Senin, 18 Maret 2019 lalu, aku mengikuti Kegiatan Publikasi  dan Sosialisasi Kurikulum 2013 di Sarila Hotel Sukoharjo. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Dinas P dan K Kabupaten Sukoharjo ini, diikuti oleh Guru Sekolah Dasar Kabupaten Sukoharjo.


Pada sesi bahan, Kebetulan pada waktu itu pematerinya adalah Bapak Subeno, Pengawas SD. Beliau menyampaikan ada tiga filososi Jawa dalam berkomunikasi, ialah Dupak Bujang, Esem Mantri & Semu Bupati.

Dupak Bujang, 

Jika diartikan secara lugas dupak artinya menendang, Bujang mempunyai arti anak muda yang masih lajang. Lalu apakah dupak bujang artinya tendangan tanpa bayangan pada seorang bujangan? Ah, pasti tidak demikian.

Jawa populer dengan tingkatan berbahasa. Sebut saja ngoko untuk berkomunikasi dengan orang yang secara strata sosial sama, atau di bawah kita. Juga bahasa Krama untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih renta, atau yang lebih tinggi strata sosialnya.

Nah, maksud dari dupak  bujang ini ialah kita harus berbicara lugas, straight, to the point. Bila perlu, kita memerintah mereka dengan men-dupak (menendang). Bahasa-bahasa kiasan atau perintah tidak pribadi, umumnya tidak akan diketahui.

Esem Mantri 

Esem mempunyai arti senyum, Mantri ya mantri, tujuannya yaitu penduduk kelas menengah. Kalau pada zaman dulu ya dibawah bupati. Memberitahu mereka hanya cukup dengan esem (senyum). Senyum saja telah menjadi pasemon (isyarat). Kaum esem mantri telah paham apa yang dimaksudkan.

Semu Bupati

Semu artinya samar, Bupati merupakan perwakilan dari orang yang berpendidikan tinggi dan mengerti sastra. Ini mewakili golongan atas, tergolong raja, kaum bakir, pujangga, dll. Untuk kelompok yang lebih tinggi (bupati), bahkan semu/pasemon (raut muka) telah cukup menyiratkan makna.

Kaum yang satu ini memberikan sesuatu secara tersamar (semu). Penuh simbolik dan makna, juga tidak frontal/eksklusif. Ketika memberikan proposal proyek, contohnya, dari reaksi raut muka atasan bisa dimengerti apakah diterima, disangsikan atau ditolak.

Kaprikornus pendek kata, dalam berkomunikasi dengan orang lain, kita harus mampu menempatkan diri. Dapat memposisikan, dengan siapa kita mengatakan. Jika memang dengan senyum dan sedikit gerak tubuh saja musuh bicara telah mengetahui, tak perlulah kita berbusa-busa ngomong kesana kemari. Meski kadang-kadang setingkat Bupati pun terkadang berbicara straight, lugas dan to the point.
Sumber https://www.aansupriyanto.com/

Sunday, December 6, 2020

Tega Larane Ora Tega Patine

Masyarakat Jawa tidak ajaib dengan istilah "Tega Larane Ora Tega Patine". Ungkapan ini menggambarkan bagaimana eratnya hubungan persaudaraan. Terlebih jika korelasi persaudaraan tersebut terikat oleh ikatan darah.

Jika diartikan dalam bahasa Indonesia, secara harfiah ungkapan tersebut memiliki arti tega sakitnya, tidak tega matinya. Artinya walaupun antar saudara kadang-kadang berantem, cekcok, beda pandangan, tetapi bila terjadi kesusahan dan penderitaan, mereka tetap akan saling menolong.

Masyarakat Jawa tidak asing dengan ungkapan  Tega Larane Ora Tega Patine

Ada suatu kisah yang dapat kita ambil hikmahnya. Disebuah desa ada suatu sumur yang dianggap seram. Hal ini dikarenakan setiap kali penduduk desa ingin mengambil air, tali dan ember yang diulurkan kedalam sumur senantiasa ditarik. Beberapa baskom bahkan terlepas dari talinya. Kemungkinan ada yang membuka simpul tali itu di dalam sumur sana. Sekian usang tidak dikenali penyebab peristiwa abnormal ini.

Banyak masyarakatdesa menyimpulkan, bahwa sumur itu dihuni oleh sesosok jin jahat yang suka mengganggu. Karena air merupakan keperluan vital penduduk, tetua desa pun berkumpul. Melalui musyawarah diputuskan untuk menjawab teka teki sumur angker, seseorang mesti masuk kedalamnya.

Tidak ada seorangpun penduduk desa yang berani untuk masuk kedalam sumur alasannya takut. Kemudian ada seorang cowok, ia bersedia dengan syarat. Saudara kandungnya harus ikut memegang tali ketika dia masuk kedalam. 

Orang-orang bertanya "kenapa harus saudaramu, disini juga banyak perjaka-perjaka yang tegap lagi besar lengan berkuasa. Saudaramu itu tinggal nya jauh dari desa kita ini?" Pemuda itu tak bergeming. Karena tidak ada orang lain yang berani masuk ke dalam sumur, merekapun kemudian menjemput kerabat kandung pemuda itu. 

Pagi itu, sesudah mengikat tubuhnya dengan tali si pemuda pun turun ke dalam sumur. Orang-orang beramai-ramai memegang tali, termasuk disana saudara kandungnya. Perlahan mereka menurunkan badan cowok itu sehingga masuk ke dasar sumur. 

Semua menunggu dengan hati berdebar. Di atas watu di dasar sumur, si pemuda menemukan seekor kera. Inilah sumber persoalan nya selama ini. Ia kemudian membawa kera itu bersamanya dan berkata,  "tarik talinya !"

Dengan secepatnya penduduk desa menawan tali pengikat tubuh si perjaka. Menjelang hingga ke permukaan sumur, si kera yang begitu senang menyaksikan cahaya matahari terlepas dari pegangan cowok, memanjat sisa tali dan melompat keluar sumur. 

Karena terkejut dengan sosok binatang ini, dan rasa takut yang sudah mencengkram hati, masyarakatdesa berhamburan berlari melepas tali. Mereka menerka jin telah merubah cowok malang itu menjadi sesosok monyet. Semua lari kecuali saudara kandung perjaka itu. 

Ia tetap bertahan memegang tali dan dengan sulit payah mempesona tali menyelamatkan adiknya seorang diri. Fahamlah masyarakatdesa, mengapa si pemuda begitu menghendaki kehadiran saudaranya. Tanpanya, dia pasti sudah mati terhempas karena mereka semua berlepas diri meninggalkannya.

Kapanpun, kerabat yakni saudara. Tak pandang seberapa banyak harta yang dipunya. Seberapa jauh jarak diantaranya, ikatannya tak kan lekang oleh era, begitulah citra "Tega Larane Ora Tega Patine"

Sumber https://www.aansupriyanto.com/

Saturday, December 5, 2020

Kesandhung Ing Rata, Kebentus Ing Tawang

Kesandhung mempunyai arti tersandung, ing rata maksudnya daerah yang datar. Kebentus artinya terbentur bab kepala, ing tawang (awang-awang) berarti langit. Secara harfiah mempunyai arti tersandung di tempat yang permukaan tanahnya datar, kepala terbentur langit.

 Secara harfiah berarti tersandung di tempat yang permukaan tanahnya datar Kesandhung ing Rata, Kebentus ing Tawang

Bagi penduduk Jawa, pitutur, petuah, anjuran , kerap kali disampaikan dengan bahasa yang samar. Bagaimana mampu ditempat yang datar (rata) kita bisa tersandung. Juga bagaimana mungkin, langit yang jauh dari jangkauan kita, kepala kita mampu terbentur?

Itulah pitutur Jawa. Maksud dari Kesandhung Ing Rata, Kebentus Ing Tawang yakni dimanapun kita berada, sikap berhati-hati dan hati-hati tetap tak bisa dilupakan. Duga-duga digawa, ngati-ati aja ngasi keri. Dalam rekomendasi lainnya, "Yitna yuwana, lena kena mula tansah eling eling lan berhati-hati" siapa yang tetap berhati-hati, hati-hati, akan selamat, sedang yang lalai niscaya celaka.

Setiap kegiatan keseharian kita tentunya akan berinterakasi dengan banyak orang. Sikap hati-hati dalam ucapan dan sikap pastinya akan menenteng konsekuensi bagi kita. Kita akan mendapatkan apapun hasil dan resiko langkah-langkah yang kita kerjakan. Untuk meninimalkan resiko dan memaksimalkan hasil dalam suatu pekerjaan ialah bertindak dengan cermat, teliti, dan perencanaan matang.

Eling marang Ingkang Paring Gesang, tansah waspada marang kahanan, supayané ora kebentus ing tawang kesandhung ing rata.
Sumber https://www.aansupriyanto.com/

Wednesday, November 18, 2020

Abote Berbudi Bawa Laksana

Saben nyawang poto wisuda, saya njur kelingan suwargi Kakung. Nalika aku wisuda, pengen rasane ati, dikancani, poto bareng. Nanging kui mau ya winates jroning angenku.

 Nanging kui mau ya winates jroning angenku Abote Berbudi Bawa Laksana

"Wong kuwi sing digugu guneme Le", mangkono welinge nalika isih sugeng. Pitutur becik, piwulang luhur ora kendhat didhlesepake jroning sela selaning kanthong klambiku, tembus tekaning ati, ngoyot nganti diwasa. "Berbudi bawa laksana kuwi ora entheng, abot."

Apa ta jane Berbudi bawa laksana kuwi? Kuwi piwulang luhur, nek basa agamane Qoulan sadida. Yen Basa Indonesia kurang luwih, satunya kata dan perbuatan. Yen guneman ya ora mencla-mencle, sing dikandhakke ya sing ditindakke.

Trus apa hubungane wisuda karo berbudi bawa laksana? Nalika saya wisuda sarjana, Kakungku ora pirsa tanggal pase. Apa pancen luput saka panjangkane. Nalika iku, Kakung kadhapuk pinangka paraga gebyar seni kelurahan. Jawilan saka pangarsa desa babagan kuwi bacut disaguhi.

Kasunyatane prosesi pindhahan kucir wisudaku bebarengan acara gebyar seni kuwi. Gela, kuciwa pancen ra kinira. Nanging pancen Nuladhakne Berbudi bawa laksana kuwi ora mung cukup wedharing kandha. Kudu nganggo tuladha sing aktual.

Aku ora papa, 
Mung sing dak suwun ratri tekaning rina, mugi Gusti paring pangapura dosa lupute Kakung nalika ana jagad rina. 
Aku ora papa, nadyan poto wisuda sarjana ora ana potoku karo Kakung. 
Aku ora papa nadyan poto wisuda Diploma ku ya mung kabur kanginan kegawa maruta. 
Amung dadi crita nalika sinau tekan Sala. 

Ngangsu kawruh, sekolah, sinau kuwi sing tenanan, tekun. Wong sing tekun bakal oleh teken. Tekan sing dadi panjangkane. Tundhane tEken kertas sing tandha tangane isoh dadi dalane Gusti paring rejeki.

Kartasura, 26 September 2019

Sumber https://www.aansupriyanto.com/

Thursday, October 29, 2020

Punjul Ing Apapak, Mrojol Ing Akerep

Selasa, 10 Maret 2020 dalam Sosialisasi Program Pendidikan Kabupaten Sukoharjo, Drs. Darno, M.Pd. menyampaikan, sebuah pesan. Kepala Dinas P dan K Kabupaten Sukoharjo ini mengambil sebuah pesan berbahasa Jawa.

 dalam Sosialisasi Program Pendidikan Kabupaten Sukoharjo Punjul ing Apapak, Mrojol ing Akerep

Dadiya Guru sing mampu "Punjul ing Apapak, Mrojol ing Akerep". Apa maksudnya ini? Sebagai seorang guru milenial, pastinya bukan cuma aku yang mengerenyitkan dahi, mengegerucutkan alis, berupaya mencari jawab.

Tentu rekan-rekan sesama guru seusia saya pun belum pasti paham dengan ungkapan tersebut. Usut-punya usut, ungkapan itu nyaris seperti dengan "Jalma Limpat Seprapat Tamat". 

Jalma memiliki arti insan, limpat artinya mumpuni. Sedangkan seprapat mempunyai arti seperempat, maksudnya cuma sebagian tidak utuh. Makara maksud dari Jalma Limpat Seprapat Tamat yakni seseorang yang mumpuni, walaupun cuma seperempat yang beliau mampu, tidak utuh, namun dia mampu memahami secara keseluruhan.

Kemudian, apa kaitannya dengan pesan dari Drs. Darno, M.Pd. yang saat ini juga menjabat sebagai Ketua PGRI ini? Jika diartikan, punjul mempunyai arti luwih atau lebih dalam bahasa Indonesia, papak mempunyai arti tidak lancip alias datar. Sedangkan mrojol memiliki arti lepas, lalu kerep artinya rengket/rapat dalam bahasa Indonesia.

Jadi maksud dari Punjul ing Apapak, Mrojol ing Akerep adalah seseorang yang mempunyai kesanggupan yang lebih dari rata-rata yang lepas dari seleksi atau kondisi yang sangat ketat.

"Punjul ing apapak mrojol ing akerep" ateges manungsa pinunjul ngluwihi sapepadhane. Manungsa pinilih kang sinaring saka saringan pandadaran, cobaan kang rapet, mula ya wis trep yen sinebut pinunjul ngluwihi sapepadhane.

Sumber https://www.aansupriyanto.com/

Wednesday, October 14, 2020

Apus Apes Pepes Lampus Pupus

Kridhaning ati ora bisa mbedhah kuthaning pesthi. Kodrating menungsa ora bisa mbubrah garising kang kuwasa. Nalika wis teka titi wancining pati, tan mampu den jokna apa maneh sira undurna. Bisane mung iso mupus, ya mung teka semono garising urip ana ngalam donya. 

Demikian kurang lebih salah satu isi dari sambutan sekaligus panglipur dari perwakilan seniman-seniwati Propinsi DIY, sempurna sebelum angkating layon, almarhun dalang Ki Seno Nugroho beberapa waktu kemudian.

Seno Nugroho-Dalang Fenomenal Asal Bumi Mataram, Yogyakarta

Siji Pesthi, loro jodo, telu Wahyu, papat kodrat, limo Bondho yaitu sesuatu yang tak mampu ditentukan. Adalah sebuah misteri, belum mampu kita pastikan kapan datang pada kita. 

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ


Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka bila telah tiba waktunya mereka tidak mampu mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. QS. Al-'A`raf [7] : 34

Cukuplah kepergian kakak ipar aku, Ashraf, Didi Kempot, Ki Seno Nugroho, sebagai pelajaran bahwa setiap yang bernyawa pasti mati. Bahwa akhir hayat kapanpun bisa tiba menjemput.   


Sumber https://www.aansupriyanto.com/