Showing posts with label alquran. Show all posts
Showing posts with label alquran. Show all posts

Tuesday, December 8, 2020

Makalah Kodifikasi Alquran

BAB I
PENDAHULUAN
Makalah Kodifikasi Alquran

Mushaf Alquran yang ada di tangan kita kini ternyata sudah lewat perjalanan panjang yang berliku-liku selama kurun waktu lebih dari 1400 tahun yang silam dan mempunyai latar belakang sejarah yang mempesona untuk dimengerti. Selain itu jaminan atas keotentikan Quran langsung diberikan oleh Allah SWT yang termaktub dalam firman-Nya QS.AL Hijr -(15):9:

"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan adz-Dzikr (Quran), dan kamilah yang akan menjaganya" Makalah ini akan menguraikan wacana sejarah kodifikasi Quran dari masa Rasulullah sampai masa khalifah Utsman bin Affan, serta penambahan tanda baca Alquran yang banyak dilaksanakan sehabis era Utsman bin Affan.

Usaha pengumpulan dan kodifikasi Quran telah dimulai sejak periode Rasulullah saw. Secara resmi kodifikasi Alquran dimulai pada kurun khalifah Abu Bakar bin Khattab. Pada masa khalifah Utsman, Alquran lalu diseragamkan goresan pena dan bacaannya demi menyingkir dari beberapa hal. Korpus yang diseragamkan inilah yang lalu diketahui dengan mushaf Utsmani. Mushaf Utsmani lalu diberi harakat dan tanda baca pada masa Ali bin Abi Thalib. Ada beberapa perbedaan perihal urutan ayat maupun surah mirip yang dicantumkan dalam mushaf Utsmani, hal ini dikarenakan perbedaan usulan para penghapal Quran dan karena turunnya Quran memang tidak berurutan mirip yang terdapat dalam mushaf Utsmani.

BAB II
PEMBAHASAN
Makalah Kodifikasi Quran

A. Sejarah Kodifikasi Alquran

1. Pada Masa Rasulullah
Pengumpulan Quran pada zaman Rasulullah SAW ditempuh dengan dua cara:

Pertama : al Jam'u fis Sudur
Para sobat langsung menghafalnya diluar kepala setiap kali Rasulullah SAW menerima wahyu.[1] Hal ini bisa dikerjakan oleh mereka dengan gampang terkait dengan kultur (budaya) orang arab yang menjaga Turast (peninggalan nenek moyang mereka diantaranya berupa syair atau cerita) dengan media hafalan dan mereka sangat masyhur dengan kekuatan daya hafalannya.

Kedua : al Jam'u fis Suthur
Yaitu wahyu turun kepada Rasulullah SAW ketika ia berumur 40 tahun yakni 12 tahun sebelum hijrah ke madinah. Kemudian wahyu terus menerus turun selama kala waktu 23 tahun berikutnya dimana Rasulullah. SAW setiap kali turun wahyu kepadanya selalu membacakannya terhadap para sahabat secara langsung dan memerintahkan mereka untuk menuliskannya sembari melarang para sobat untuk menulis hadis-hadis ia sebab cemas akan bercampur dengan Alquran. Rasul SAW bersabda "Janganlah kalian menulis sesuatu dariku kecuali Quran, barangsiapa yang menulis sesuatu dariku selain Quran maka hendaklah dia menghapusnya

Biasanya sobat menuliskan Alquran pada media yang terdapat pada waktu itu berbentukar-Riqa' (kulit hewan), al-Likhaf (lempengan kerikil), al-Aktaf (tulang binatang), al-`Usbu ( pelepah kurma). Sedangkan jumlah teman yang menulis Alquran waktu itu mencapai 40 orang. Adapun hadis yang menguatkan bahwa penulisan Quran sudah terjadi pada abad Rasulullah s.a.w. yaitu hadis yang di Takhrij (dikeluarkan) oleh al-Hakim dengan sanadnya yang bersambung pada Anas r.a., dia berkata: "Suatu dikala kita bersama Rasulullah s.a.w. dan kita menulis Alquran (mengumpulkan) pada kulit binatang ".

Dari kebiasaan menulis Quran ini menimbulkan banyaknya naskah-naskah (manuskrip) yang dimiliki oleh masing-masing penulis wahyu, diantaranya yang populer yakni: Ubay bin Ka'ab, Abdullah bin Mas'ud, Mu'adz bin Jabal, Zaid bin Tsabit dan Salin bin Ma'qal. Adapun hal-hal lainnya yang mampu menguatkan bahwa telah terjadi penulisan Quran pada waktu itu yaitu Rasulullah SAW melarang membawa goresan pena Quran ke wilayah lawan. Rasulullah s.a.w. bersabda: "Janganlah kalian membawa catatan Quran kewilayah musuh, alasannya aku merasa tidak kondusif (khawatir) bila catatan Quran tersebut jatuh ke tangan mereka”.

Kisah masuk islamnya sobat `Umar bin Khattab r.a. yang disebutkan dalam buku-bukus sejarah bahwa waktu itu `Umar mendengar kerabat perempuannya yang berjulukan Fatimah sedang membaca awal surah Thaha dari sebuah catatan (manuskrip) Alquran lalu `Umar mendengar, meraihnya kemudian memba-canya, inilah yang menjadi sebab dia mendapat hidayah dari Allah sehingga beliau masuk islam. Sepanjang hidup Rasulullah s.a.w Quran senantiasa ditulis bilamana ia mendapat wahyu alasannya Quran diturunkan tidak secara sekaligus tetapi secara sedikit demi sedikit.

2. Pada Masa Abu Bakar
Sepeninggal Rasulullah SAW, istrinya `Aisyah menyimpan beberapa naskah catatan (manuskrip) Alquran, dan pada abad pemerintahan Abu Bakar r.a terjadilah Jam'ul Alquran[2] yakni pengumpulan naskah-naskah atau manuskrip Alquran yang susunan surah-surahnya berdasarkan riwayat masih menurut pada turunnya wahyu (hasbi tartibin nuzul). Imam Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya sebab-alasannya adalah yang melatarbelakangi pengumpulan naskah-naskah Quran yang terjadi pada periode Abu Bakar ialah Atsar yang diriwatkan dari Zaid bin Tsabit r.a. yang berbunyi: " Suatu dikala Abu bakar menemuiku untuk menceritakan ihwal korban pada perang Yamamah , ternyata Umar juga bersamanya. Abu Bakar berkata :" Umar menghadap kapadaku dan mengatakan bahwa korban yang gugur pada perang Yamamah sungguh banyak utamanya dari kalangan para penghafal Alquran, aku cemas peristiwa serupa akan menimpa para penghafal Alquran di beberapa tempat sehingga suatu saat tidak akan ada lagi sobat yang hafal Alquran, menurutku sudah saatnya engkau wahai khalifah menyuruh untuk mengumpul-kan Quran, lalu saya berkata terhadap Umar : " bagaimana mungkin kita melaksanakan sesuatu yang tidak pernah dilaksanakan oleh Rasulullah s. a. w. ?" Umar menjawab: "Demi Allah, ini adalah suatu kebaikan".

Selanjutnya Umar senantiasa saja mendesakku untuk melakukannya sehingga Allah melapangkan hatiku, maka saya oke dengan ajakan umar untuk mengumpulkan Alquran. Zaid berkata: Abu bakar berkata kepadaku : "engkau yaitu seorang cowok yang pintar dan berakal, kami tidak mencurigai hal itu, dahulu engkau menulis wahyu (Quran) untuk Rasulullah s. a. w., maka kini periksa dan telitilah Quran lalu kumpulkanlah menjadi suatu mushaf". Zaid berkata : " Demi Allah, andaikata mereka memerintahkan aku untuk memindah salah satu gunung tidak akan lebih berat dariku dan pada memerintahkan saya untuk menghimpun Quran. Kemudian aku teliti Alquran dan mengumpulkannya dari pelepah kurma, lempengan watu, dan hafalan para sobat yang lain".

Kemudian Mushaf hasil pengumpulan Zaid tersebut disimpan oleh Abu Bakar, kejadian tersebut terjadi pada tahun 12 H. Setelah beliau wafat disimpan oleh khalifah sesudahnya yaitu Umar, sehabis dia pun wafat mushaf tersebut disimpan oleh putrinya dan sekaligus istri Rasulullah s.a.w. yang berjulukan Hafsah binti Umar r.a.

Semua sobat sepakat untuk memberikan perlindungan mereka secara penuh kepada apa yang telah dilakukan oleh Abu bakar berupa menghimpun Quran menjadi sebuah Mushaf. Kemudian para sahabat menolong meneliti naskah-naskah Alquran dan menulisnya kembali. Sahabat Ali bin Abi thalib berkomentar atas insiden yang bersejarah ini dengan mengatakan : " Orang yang paling berjasa terhadap Mushaf ialah Abu bakar, agar ia mendapat rahmat Allah karena adalah yang pertama kali mengumpulkan Quran, selain itu juga Abu bakarlah yang pertama kali menyebut Alquran selaku Mushaf).

Menurut riwayat yang lain orang yang pertama kali menyebut Quran selaku Mushaf yakni sobat Salim bin Ma'qil pada tahun 12 H melalui perkataannya ialah : "Kami menyebut di negara kami untuk naskah-naskah atau manuskrip Quran yang dikumpulkan dan di bundel sebagai MUSHAF" dari perkataan salim inilah Abu bakar mendapat inspirasi untuk menamakan naskah-naskah Alquran yang sudah dikumpulkannya sebagai al-Mushaf as Syarif (kumpulan naskah yang mulya). Dalam Alquran sendiri kata Suhuf (naskah ; jama'nya Sahaif) tersebut 8 kali, salah satunya adalah firman Allah QS. Al Bayyinah (98):2 " Yaitu seorang Rasul utusan Allah yang membacakan beberapa lembaran suci. (Quran)"

3. Pada Masa Umar bin Khattab
Tidak ada kemajuan yang signifikan terkait dengan kodifikasi Alquran yang dijalankan oleh khalifah kedua ini selain melanjutkan apa yang sudah dicapai oleh khalifah pertama adalah mengemban misi untuk mengembangkan islam dan mensosialisasikan sumber utama ajarannya yakni Alquran pada kawasan-wilayah daulah islamiyah baru yang sukses dikuasai dengan mengantarpara teman yang dapat dipercaya serta kapasitas ke-Alquranan-nya mampu dipertanggungjawabkan Diantaranya ialah Muadz bin Jabal, `Ubadah bin Shamith dan Abu Darda'.

4. Pada Masa Utsman
Pada masa pemerintahan Usman bin 'Affan terjadi ekspansi wilayah islam di luar Jazirah arab sehingga menjadikan umat islam bukan hanya berisikan bangsa arab saja ('Ajamy). Kondisi ini pastinya mempunyai pengaruh kasatmata dan negatif. Salah satu dampaknya adalah saat mereka membaca Quran, alasannya bahasa orisinil mereka bukan bahasa arab. Fenomena ini di tangkap dan ditanggapi secara pandai oleh salah seorang sobat yang juga sebagai panglima perang pasukan muslim yang bernama Hudzaifah bin al-yaman. Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas r.a. bahwa sebuah saat Hudzaifah yang pada waktu itu memimpin pasukan muslim untuk kawasan Syam (sekarang syiria) mendapat misi untuk menaklukkan Armenia, Azerbaijan (dulu tergolong soviet) dan Iraq menghadap Usman dan menyampaikan kepadanya atas realitas yang terjadi dimana terdapat perbedaan bacaan Alquran yang mengarah terhadap perselisihan. Ia berkata : "wahai usman, cobalah lihat rakyatmu, mereka berselisih gara-gara bacaan Alquran, jangan hingga mereka terus menerus berselisih sehingga menyerupai kaum yahudi dan nasrani ".

Lalu Usman meminta Hafsah meminjamkan Mushaf yang di pegangnya untuk disalin oleh panitia yang sudah dibentuk oleh Usman yang anggotanya terdiri dari para sahabat diantaranya Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa'id bin al'Ash, Abdurrahman bin al-Haris dan lain-lain.[3] Kodifikasi dan penyalinan kembali Mushaf Quran ini terjadi pada tahun 25 H, Usman berpesan kalau terjadi perbedaan dalam pelafalan biar mengacu pada Logat bahasa suku Quraisy alasannya Quran diturunkan dengan gaya bahasa mereka.[4] Setelah panitia selesai menyalin mushaf, mushaf Abu bakar dikembalikan lagi terhadap Hafsah. Selanjutnya Usman memerintahkan untuk mengkremasi setiap naskah-naskah dan manuskrip Quran selain Mushaf hasil salinannya yang berjumlah 6 Mushaf.

Mushaf hasil salinan tersebut diantarkan ke kota-kota besar yaitu Kufah, Basrah, Mesir, Syam dan Yaman. Usman menyimpan satu mushaf untuk beliau simpan di Madinah yang belakangan diketahui selaku Mushaf al-Imam. Tindakan Usman untuk menyalin dan menyatukan Mushaf sukses meredam perselisihan dikalangan umat islam sehingga beliau manual kebanggaan dari umat islam baik dari dulu sampai kini sebagaimana khalifah pendahulunya Abu bakar yang sudah berjasa mengumpulkan Quran. Adapun Tulisan yang digunakan oleh panitia yang dibentuk Usman untuk menyalin Mushaf ialah berpegang pada Rasm alAnbath tanpa harakat atau Syakl (tanda baca) dan Nuqath (titik selaku pembeda huruf).

5. Tanda Yang Mempermudah Membaca Quran
Sampai kini, setidaknya masih ada empat mushaf yang disinyalir adalah salinan mushaf hasil panitia yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit pada kurun khalifah Usman bin Affan. Mushaf pertama didapatkan di kota Tasyqand yang tertulis dengan Khat Kufy. Dulu sempat dirampas oleh kekaisaran Rusia pada tahun 1917 M dan disimpan di perpustakaan Pitsgard (kini St.PitersBurg) dan umat islam dihentikan untuk melihatnya. Pada tahun yang serupa sehabis kemenangan komunis di Rusia, Lenin memerintahkan untuk memindahkan Mushaf tersebut ke kota Opa hingga tahun 1923 M. Tapi sehabis terbentuk Organisasi Islam di Tasyqand para anggotanya meminta kepada dewan perwakilan rakyat Rusia semoga Mushaf dikembalikan lagi ketempat asalnya yaitu di Tasyqand (Uzbekistan, negara di bab asia tengah).

Mushaf kedua terdapat di Museum al Husainy di kota Kairo mesir dan Mushaf ketiga dan keempat terdapat di kota Istambul Turki. Umat islam tetap mempertahankan keberadaan mushaf yang orisinil apa adanya. Sampai sebuah ketika ketika umat islam telah terdapat hampir di semua potongan dunia yang terdiri dari berbagai bangsa, suku, bahasa yang berlainan-beda sehingga memberikan inspirasi kepada salah seorang sahabat Ali bin Abi Thalib yang menjadi khalifah pada waktu itu yang bernama Abul-Aswad as-Dualy untuk membuat tanda baca (Nuqathu I’rab) yang berbentuktanda titik.

Atas persetujuan dari khalifah, jadinya beliau menciptakan tanda baca tersebut dan membubuhkannya pada mushaf. Adapun yang mendorong Abul-Aswad ad-Dualy membuat tanda titik adalah riwayat dari Ali r.a bahwa sebuah dikala Abul-Aswad adDualy menjumpai seseorang yang bukan orang arab dan baru masuk islam membaca kasrah pada kata "Warasuulihi" yang sebaiknya dibaca "Warasuuluhu" yang terdapat pada QS. At-Taubah (9) 3 sehingga mampu merusak makna.

Abul-Aswad ad-Dualy menggunakan titik bulat penuh yang berwarna merah untuk menandai fathah, kasrah, Dhammah, Tanwin dan memakai warna hijau untuk menandai Hamzah. Jika sebuah kata yang ditanwin bersambung dengan kata berikutnya yang berawalan abjad Halq (idzhar) maka ia membubuhkan tanda titik dua horizontal seperti "adzabun alim" dan membubuhkan tanda titik dua Vertikal untuk menandai Idgham mirip "ghafurrur rahim".

Adapun yang pertama kali menciptakan Tanda Titik untuk membedakan karakter-aksara yang serupa karakternya (nuqathu hart) adalah Nasr bin Ashim (W. 89 H) atas permintaan Hajjaj bin Yusuf as-Tsaqafy, salah seorang gubernur pada periode Dinasti Daulah Umayyah (40-95 H). Sedangkan yang pertama kali menggunakan tanda Fathah, Kasrah, Dhammah, Sukun, dan Tasydid seperti yang-kita kenal sekarang yakni al-Khalil bin Ahmad al-Farahidy (W.170 H) pada kala ke II H.

Kemudian pada abad Khalifah Al-Makmun, para ulama selanjutnya berijtihad untuk makin membuat lebih mudah orang untuk membaca dan menghafal Alquran terutama bagi orang selain arab dengan menciptakan tanda-tanda baca tajwid yang berupa Isymam, Rum, dan Mad. Sebagaimana mereka juga membuat tanda Lingkaran Bulat sebagai pemisah ayat dan mencamtumkan nomor ayat, gejala waqaf (berhenti membaca), ibtida (mengawali membaca), pertanda identitas surah di awal setiap surah yang terdiri dari nama, tempat turun, jumlah ayat, dan jumlah 'ain. Tanda-tanda lain yang dibubuhkan pada tulisan Quran yakni Tajzi' yakni tanda pemisah antara satu Juz dengan yang yang lain berbentukkata Juz dan dibarengi dengan penomorannya (misalnya, al-Juz-utsalisu: untuk juz 3) dan tanda untuk menawarkan isi yang berupa seperempat, seperlima, sepersepuluh, setengah Juz dan Juz itu sendiri.

Sebelum didapatkan mesin cetak, Alquran disalin dan diperbanyak dari mushaf utsmani dengan cara goresan pena tangan. Keadaan ini berjalan sampai kurun ke16 M. Ketika Eropa menemukan mesin cetak yang mampu digerakkan (dipisah-pisahkan) dicetaklah Quran untuk pertama kali di Hamburg, Jerman pada tahun 1694 M. Naskah tersebut sepenuhnya dilengkapi dengan tanda baca. Adanya mesin cetak ini kian memudahkan umat islam memperbanyak mushaf Alquran. Mushaf Quran yang pertama kali dicetak oleh kelompok umat islam sendiri yaitu mushaf edisi Malay Usman yang dicetak pada tahun 1787 dan diterbitkan di St. Pitersburg Rusia. Kemudian disertai oleh percetakan yang lain, seperti di Kazan pada tahun 1828, Persia Iran tahun 1838 dan Istambul tahun 1877. Pada tahun 1858, seorang Orientalis Jerman , Fluegel, menerbitkan Quran yang dilengkapi dengan aliran yang amat bermanfaat.

Sayangnya, terbitan Alquran yang diketahui dengan edisi Fluegel ini ternyata mengandung cacat yang fatal sebab tata cara penomoran ayat tidak sesuai dengan metode yang dipakai dalam mushaf tolok ukur. Mulai Abad ke-20, pencetakan Quran dijalankan umat islam sendiri. Pencetakannya menerima pengawasan ketat dari para Ulama untuk menghindari timbulnya kesalahan cetak. Cetakan Quran yang banyak dipergunakan di dunia islam sampaumur ini adalah cetakan Mesir yang juga diketahui dengan edisi Raja Fuad sebab dialah yang memprakarsainya. Edisi ini ditulis berdasarkan Qiraat Ashim riwayat Hafs dan pertama kali diterbitkan di Kairo pada tahun 1344 H/ 1925 M. Selanjutnya, pada tahun 1947 M untuk pertama kalinya Quran dicetak dengan tekhnik cetak offset yang canggih dan dengan menggunakan abjad-abjad yang indah. Pencetakan ini dikerjakan di Turki atas prakarsa spesialis kaligrafi turki yang terkemuka Said Nursi.


B. Perbedaan Antara Proses Kodifikasi Pada Masa ‘Utsman dan Abu Bakar
Perbedaan antara proses kodifikasi pada era ‘Utsman dan Abu Bakar, bahwa tujuan pengkodifikasian al-Qur’an pada abad Abu Bakar radliyallâhu ‘anhu yaitu mengumpulkan al-Qur’an secara keseluruhan dalam satu Mushhaf sehingga tidak ada satupun yang tercecer tanpa mendorong orang-orang agar bersatu dalam satu Mushhaf saja, dan hal ini dikarenakan belum tampak implikasi yang signifikan dari adanya perbedaan seputar Qirâ`at sehingga mengharuskan tindakan ke arah itu. Sementara tujuan kodifikasi pada masa ‘Utsman ialah mengumpulkan al-Qur’an secara keseluruhan dalam satu Mushhaf namun mendorong orang-orang supaya bersatu dalam satu Mushhaf saja. Hal ini, alasannya adalah adanya implikasi yang sangat mengkhawatirkan dari beragam model Qirâ`ah tersebut.

Jerih payah pengkodifikasian ini ternyata membuahkan mashlahat yang besar bagi kaum Muslimin, ialah bersatu-padunya umat, bersepakatnya kata serta terbitnya suasana keakraban diantara mereka. Dengan terciptanya hal tersebut, maka kerusakan besar yang ditimbulkan oleh perpecahan umat, tidak bersepakat dalam satu kata serta menyeruaknya kebencian dan permusuhan telah mampu dibuang jauh-jauh. Hal mirip ini terus berlanjut hingga hari ini, kaum Muslimin bersepakat atasnya, diriwayatkan secara mutawatir diantara mereka melalui proses tranfer dari generasi bau tanah terhadap generasi muda dengan tanpa tersentuh oleh tangan-tangan jahat dan para penghamba hawa nafsu. Hanya bagi Allah.[5]


C. Mushaf Utsmani
Dahulunya, AlQuran tidaklah ditulis tetapi dihafal, adapun ditulis itu alasannya adalah ada orang-orang dari luar arab, yang tidak mengerti perihal bahasa arab maka dijadikanlah AlQuran itu ditulis. AlQuran tidaklah berlawanan, bahkan rasulullah bersabda, bahwa AlQuran itu diturunkan dengan tujuh karakter yang memiliki arti ada tujuh cara membacanya. Nah, dari sinilah masalah ini alhasil membengkak. Pada saat Islam telah menyebar ke banyak sekali penjuru dunia, mulai dari Spanyol, Persia sampai daratan Rusia, AlQuran ini mulai banyak orang yang membacanya berlawanan. Sampai sebuah dikala ada dua umat yang saling menyalahkan bacaan, dan memang barangsiapa yang menggandakan AlQuran pada waktu itu (masih jaman shahabat, sepeninggal rasulullah) maka hukumannya yakni penggal.

Maka para shahabat tak main-main dengan problem ini. Dua orang yang sedang bertengkar itu berasal dari Madinah yang satu dari Persia.[6] Dan dikala mereka kemudian menghadap kepada khalifah dikala itu (ustman bin Affan) maka Ustman mendengarkan kedua bacaan itu dan tak ada yang salah dari bacaan itu, namun karena perselisihan sudah banyak dan orang-orang saling menyalahkan maka satu-satunya cara adalah dengan menulis Al Qur'an tersebut dalam satu cara baca. Sebelumnya Al Qur'an sudah dibukukan, tapi masih terpisah dan ada tujuh cara baca.

Dari sinilah lalu para pembesar-pembesar shahabat berunding, kira-kira ejaan yang manakah yang mau dijadikan sebagai satu-satunya bacaan yang digunakan di dalam Al Qur'an. Saat itulah Ustman menyampaikan , "Allah telah meridhai kaum muhajirin dan Anshar, dan mereka juga telah ridha kepada Allah, maka kita memakai cara bacanya kaum muhajirin dan Anshar".

Maka sehabis itu dibukukanlah Al Qur'an dengan cara bacaan kaum muhajirin dan Anshar seperti yang kita terima sampai sekarang. Dan mushaf yang disusun oleh Ustman itu diketahui sebagai Mushaf ustmani. Sebelumnya mushaf itu tidak ada harakat, fathah, dhomah, atau kasrah, gres ada tanda baca itu pada zaman Ali bin Abi Thalib.[7]

Tidak gila kalau mushaf ustmani ialah satu-satunya yang disyahkan. setelah dibukukannya Al Qur'an dan dituliskan mushaf ustmani itu para shahabat tak ada perselisihan lagi. Dan Mushaf-mushaf itu dikirim ke beberapa negara. 3 dikirim keluar negeri satu tinggal di Makkah.


DAFTAR PUSTAKA
  • Ali, K., A Study Of Islamic History. India: Idarah Adabiyah Delli, 1980.
  • Amal, Taufik Adnan, Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an. Yogyakarta : Forum kajian dan Budaya, 2001.
  • Bucaille, Maurice, Injil, Alquran, dan Sains Modern, ter. Rasyidi. Jakarta: Bulan Bintang, 1979.
  • Hasan, Ali, Sejarah dan Metodologi Tafsir, terj Arkom. Jakarta: Rajawali, 1992.
  • Ridho, M., Utsman Bin Affan Al-Khalifah At-Tsalitsah. Beirut: Daar Kutub, 1982.
  • Shalih, Subhi, Membahas Ilmu-Ilmu Al-Qur’an. Jakarta: Pustaka Firdaus,1990.
  • ’Utsaimin, Muhammad bin Shalih, -Ushûl Fi at-Tafsîr. Beirut: Dar Kutub al-Ilmiyah, tth.

Sumber http://makalahmajannaii.blogspot.com

Saturday, October 24, 2020

Makalah Adab Dalam Kajian Filsafat Islam Dan Al-Quran

Etika merupakan hal yang terpenting dalam kehidupan. dalam kajian filsafat dan alquran akhlak ialah dasar yang penting untuk di pelajari. oleh alasannya itu makalah ini secara rinci membicarakan bagaimana budpekerti dalam pandangan filsafat dan al-quran secara islami. Etika ialah istilah yang berasal dari bahasa Yunani ethos yang memiliki arti: etika istiadat.[5] Sebagai cabang dari filsafat, maka budpekerti berangkat dari kesimpulan logis dan rasio guna untuk menetapkan ukuran yang serupa dan disepakati tentang sesuatu tindakan, apakah perbuatan itu baik atau jelek, benar atau salah dan patut atau tidak pantas untuk dilakukan.

Secara fisik, insan ada yang sehat dan ada juga yang cacat, ada yang buta, tuli, lumpuh, dan kelemahan-kelemahan lainnya yang bersifat jasmaniah. Tetapi dapatkah kita menyebutkan bahwa kekurangan-kekurangan jasmaniah tersebut juga memperlihatkan adanya kekurangan dalam segi rohani dan kepribadiannya. Sokrates, misalnya, seorang filosof Yunani kenamaan, yang kadang disejajarkan dengan nabi, yaitu orang yang amat jelek rupa. Tetapi, kejelekan ini tidak dianggap cacat. Atau Abu al-‘Ala Mu’arra dan Thaha Husain, yang hidup di periode kini yakni para tunanetra.[1] Apakah sikap mereka juga seburuk penampilannya, ataukah mereka memiliki cacat kepribadian?. Adalah salah bila menilai rohani tergantung pada jasmani. Setiap manusia yang berpenampilan baik dalam sisi jasmaniahnya belum dapat dipastikan mempunyai tingkah laku atau perangai yang bagus. hal di atas memperlihatkan bahwa evaluasi seseorang itu tidak bergantung pada segi jasmaninya.

Dalam kehidupan ini, kita sering tertipu dengan orang-orang yang berpenampilan baik sehingga kita menganggap dan menamainya sebagai orang baik. Di televisi dan media massa yang lain, pernah disebutkan: seorang guru mengaji yang sampai tega “mencabuli” murid-murid perempuannya yang masih kecil, atau seorang oknum pegawapemerintah yang terlibat kasus perampokan, dan pejabat-pejabat yang merupakan “panutan penduduk ” terlibat masalah korupsi dan kolusi, serta acuan-teladan yang lain.

Jika dipersempit masalahnya kedalam penduduk Islam, dan kita sebutkan saja pelaku-pelaku langkah-langkah di atas ialah muslim, maka muncul pertanyaan: apakah pelaku tersebut tidak paham bahwa Islam sudah mengajarkan tuntunan-tuntunan yang disebut ilmu adat?, jikalau beliau mengetahui bahwa dalam Islam ada pemikiran akhlak, lantas mengapa beliau masih tetap melakukan tindakan yang buruk tersebut?.

Berdasarkan hal di atas, maka permasalahannya dapat dibagi menjadi dua: Pertama bahwa beliau memang tidak paham akan sikap-perilaku yang cocok dengan tuntunan adab islami. Kedua, dia mengetahuinya, namun tidak mengamalkannya dikarenakan pemahamannya ihwal maksud dan pesan yang tersirat yang terkandung didalam tuntunan-tuntunan tersebut masih terbatas. Dari sini dapat dimengerti bahwa budpekerti yang berisi tuntunan-tuntunan sikap muslim, ternyata tidak cuma selaku “masakan siap saji” yang langsung mampu dimakan tanpa perlu dikaji dan dipikirkan, bahan-materi apa yang terkandung di dalamnya, apakah kuliner tersebut sesuai dengan kondisi tubuhnya dan tidak menjinjing kemudharatan bagi kesehatannya.

Oleh alasannya adalah itu, adat, sebagai produk siap jadi, ternyata masih perlu dipikirkan kembali, dikaji ulang dan diketahui maksud-maksud yang terkandung didalamnya. Di sini, filsafat adab dan watak menjadi penting untuk dikaji kembali. Bukan untuk meruntuhkan tatanan yang sudah ada, namun untuk mengoreksi kembali agar tuntunan tersebut lebih terasa berarti.

Dalam sebuah “Temu ramah masyarakat NU Sumatera Utara” yang diadakan di Medan, Masdar F. Mas’udi, pernah menjelaskan perihal memelihara jenggot. Menurutnya, bahwa Nabi saw., menyuruh umat Islam memelihara jenggot biar seorang muslim kelihatan berwibawa sehingga dengan jenggot yang lebat, orang-orang non muslim akan menaruh wibawa dan hormat kepadanya. Tetapi perintah ini kurang cocok untuk orang ras melayu (utamanya orang Indonesia rata-rata berbadan kecil dan tidak berbulu lebat), alasannya kalau seorang melayu memelihara jenggot yang tidak lebat (alias jenggotnya cuma tujuh lembar), maka hal itu tidak akan menimbulkan kewibawaan baginya, malahan bagi orang yang melihatnya akan menjadi sesuatu yang lucu dan konyol. Begitu kata Masdar.

Contoh di atas terkait dengan permasalah adab atau filsafat adat, yakni bagaimana kita mampu mendapatkan dan menatap nilai-nilai yang bagus bagi kehidupan. Sebagai salah satu cabang ilmu filsafat, budbahasa mulai dibicarakan oleh para filosof Yunani hingga ke abad modern ini. Adalah Sokrates filosof yang pertama kali mengemukakan; untuk apa sebenarnya insan hidup, bagaimana bekerjsama manusia mesti bersikap dalam memandang diri dan kehidupannya, dan menatap nilai-nilai yang mesti dijalankan dalam kehidupan ini agar melahirkan rancangan-desain yang mampu diwujudkan dalam kehidupan praktis. Dari sini, tradisi adat pun berlanjut sampai menjadi pembahasan yang tidak luput dari kajian para filosof muslim klasik dengan berbagi konsep-desain etika warisan Yunani dengan prinsip-prinsip utama yang ada dalam anutan Islam.

Secara defenisi, etika atau lazimnya disebut filsafat watak yakni citra rasional perihal hakekat dan dasar tindakan dan keputusan yang benar serta prinsip-prinsip yang memilih klaim bahwa tindakan dan keputusan tersebut secara akhlak diperintahkan atau dilarang.[2] Etika juga merupakan kebiasaan susila dan sifat perwatakan yang berisi nilai-nilai yang terbentuk dalam tingkah laku dan adab istiadat.[3] Oleh alasannya itu observasi akhlak senantiasa menempatkan tekanan khusus terhadap defenisi desain-desain budbahasa, justifikasi atau penilaian kepada keputusan sopan santun, sekaligus membedakan antara tindakan dan keputusan yang baik dan buruk.

Dalam agama Islam, konsep-rancangan budbahasa, keagamaan dan prilaku individu dan sosial sesungguhnya sudah terdapat pada teks-teks suci, namun tidak berisi teori-teori akhlak dalam bentuk baku meskipun dia membentuk keseluruhan ethos Islam. Kaprikornus bagaimana cara mengeluarkan nilai-nilai tersebut menjadi sungguh penting dalam studi budbahasa Islam. Oleh alhasil, para teolog dan filosof mengambil posisi masing-masing dalam menggali otoritas al-Qur’an untuk mendukung pernyataan teoritis mereka dalam mengambil nilai-nilai yang terdapat dalam wahyu.

Para filosof muslim awal dalam kajiannya tentang adab apakah Neo-Platonis mirip al-Farabi, Aristotelian seperti Ibnu Rusyd, atau Platonis mirip Abu Bakar al-Razi, berada dalam posisi yang berbeda dengan para teolog yang berangkat dari teks wahyu. Sekalipun mereka tidak terbelakang atau secara sengaja menyangkal otoritas al-Qur’an, tetapi mereka setia terhadap kaidah-kaidah dalil filsafat yang telah diwariskan oleh filsafat Yunani. Pembahasan akhlak filosof-filosof muslim tersebut sering dihiasi dengan dalil-dalil al-Qur’an mirip cara-cara penulis muslim lazimnya , akan namun dikhususkan pada diktum-diktum yang memperkuat kesimpulan mereka. Makara untuk membedakan antara keduanya, bagi para teolog teks suci ialah dasar kebenaran utama, sedangkan bagi para filosof yaitu logika.[4]

Etika

Friday, October 2, 2020

Makalah Munasabah Al-Quran

BAB I
PENDAHULUAN
Makalah Munasabah Al-quran

Quran ialah firman yang terakhir, penjaga dan pelindung wahyu yang pernah diterima oleh rasul terdahulu, serta merupakan embel-embel dan penyempurna (pedoman) yang mau menuttut kehidupan umat dimasa depan. Quran ialah juga sumber ilmu wawasan yang hingga kini masih digali isi kandungannya,baik dari kalangan muslim maupun dari kelompok non muslim.

Namun usaha itu menemukan kendala, karna alquran tidan tersusun mirip susunan karaya ilmiah. Banyak duduk perkara inti yang silih bergandi diungkapan dalam alquran, sehingga menurut shihap, sangat diperlukan cara-cara yang mudah dalam memahaminya. Hal ini mampu ditolerir mengigat alquran merupakan kitab yang tidak mampu diketahui dengan bekal ilmu wacana pemahaman ilmu alquran yang minim.

Munasabah merupakan satu dari sekian banyak cara dalam menolong memahami makana yang terkandung didalam alquran. Dalam fenomena ini munasabah berusaha menyaksikan kekerabatan antara satu ayat dengan ayat yang yang lain, pembukaan surat dengan final surat dan satu surat dengan surat yang lainya, baik yang dibelakang maupun didepan surat tersebut. Dengan memperhatikan munasabah berarti telah berupaya sebaik-baiknya dalam menafirkan alquran.

Munasabah mempunyai tugas yang sensitifkan dalam mengetahui makna alquran. Hal ini seperti pandangan Zuhdi, bahawa ilmu munasabah mampu berperan dalam mengantikan ilmu asbabu al-nuzul, apabila seorang tidak mengenali seab turunnnya satu ayat, tetapi mengetahui korelasinya, Untuk mengarahkan pengkajian ihwal munasabah sampai dapat menciptakan suatu masukan yang bermutu, maka beranjak dari latar belakang dilema tadilah menyebabkan masalah tentang apa sebetulnya munasabah tersebut ?

BAB II
PEMBAHASAN
Makalah Munasabah Al-quran

A. PENGERTIAN MUNASABAH
Pengertian munasabah dapat difahami dari dia sudut tinjauan ,yaitu secara bahasa dan ungkapan .zakarshi memberikan pengertian dari sudut bahasa, bahwa:

المناسبة فى اللغة المقاربة
(Al munasahabah dalam bahasa artinya berarti kedekatan)

Dalam kontek ini nyaris dapat dipastikan bahwa ayat dalam alquran memiliki relasi yang bersahabat. Untuk pertanda lebih jauh lagi perihal maka dapat diliha pengertiannya berdasarka ungkapan, ialah: “Al-munasabah yaitu adanya bentuk ikatan antara satu kalimat dengan kalimat yang lain dalam satu surat, antara satu ayat dengan ayat yang lain dalam surat yang berbeda, aatu antara satu surat dengan surat lainnya.”

Dalam hal tersebut bukan saja pertalian yang bersifat kesesuan saja, nmaun memiliki banyak bentuk persesuain, antara lain mirip disebutkan suyuthi bahwa keterkaitan tersebut mirip berikut :

“Macam-macam bentuk keterkaiatan nya yakni antara lain berbentuk seperti sabab dan musababnya, persesuaian dan kontradiksi.”

Namun berdasarkan Chirzin bahwa bentuk kesesuain tersebut lebih didominasi oleh kaitan yang berkisar sekitar sebab balasan dan kontradiksi, karena jikalau ayat itu tidak saling bertemu maka tentu berhadapan selaku musuh.

B. Pembagian Munasabah
Berdasarkan pemahaman diatas, maka munasabah diklasifikasikan sebagai berikut :

1. Munasabah ayat dengan ayat dalam satu surat
Munasabah ayat dengan dengan ayat, terdapat dua pokok duduk perkara yang fundamental, pertama antara ayat dengan ayat kelihatan terang, hal ini dapat terlihat dari ayat yang diperantarai dengan huruf athaf, seperti ungkapan Zarkashi, mengutip firman Allah swt :

Dia mengenali apa yang masuk ke dalam bumi, apa yang ke luar daripadanya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. dan Dia-lah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengampun. (Q.S. Saba ‘ (34) : 2)

Huruf athaf pada ayat tersebut menunjukkan keselarasan tersebut termasuk bentuk kesesuaian. Kemudian ada lagi korelasi antara satu ayat dengan ayat yang lainnya tidak terlihat terang, menurut zakarshimembutuhkan satu alat untuk menjadi bukti wacana keterikatnnya berupa keterkaitan dari sudut ma`nawi. Dan jika diteliti lebih jauh lagi maka tersirat bahwa kekerabatan secara ma`nawi dikatakorikan lagi tiga jenis, ialah takzir (kekerabatan perbadingan), mudhabah (hubungan pertetangan) dan Istidrat(relasi yang mencerminkan adanya kaiatan antara sebuah problem dengan dilema lainnya.

2. Munsabah antara satu surat dengan surat yang yang lain
Didalam alquran tidak saja terjadi munasabah antara satu ayat dengan ayat yang lain saja, namaun antara satu surat dengan surat lainnya juga terjadi munasabah. Munasabah yang terjadi bisa saja sifatnya berkesusasian, berlawanan dan alasannya balasan.

3. munasabah antara permulaan ayat dengan selesai ayat dalam satu surat
Di samping dua klasifikasi munasabah diatas, maka lebih lanjut dinyatakan bahwa munasabah juga terjadi antara awal dan selesai ayat pada satu surat. Konsekwensinya adalah alquran memiliki keunikan terdiri jika dibandikan dengan kitab-kitab sebelumnya.

C. MUNASABAH DALAM TATARAN PRAKTIS
Untuk mengenali lebih jelasnya perihal munasabah, maka akan diuraikan dengan dengan dua buku tafsir-jajalain dan maraghi-yang dispessifikasikan pada surat al-quraisy

1. munasabah antara satu ayat dengan ayat lainnya dalam satu surat

(Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu sudah bertindak kepada tentara bergajah) . (Q.S al-Fiil : 1).

Dalam tafsir jajalain ditafsirkan dengan dua penggalan kata, yaitu ; yang merupakan istifham dan mengandung makna ta`ajub, artinya mirip kamu merasa kesengsem. Kemudian كيف فعل ربك بأ صحاب الفيل yang maksudnya yaitu Mahmudlah yang memiliki gajah dengan dibarengi sahabatnya Abraham yang merupakan raja dari Yaman berikut tentaranya yang sudah membangun suatu gereja dengan tujuan semoga orang berpaling menziarahi Makkah. Pada suatu hari ada seorang dari kinanah yang mengotori dengan berniat menghinanya. Dengan keadaan itu abraham bertekat untuk menghacurkan ka`bah maka Allah mengantarkan kepada mereka apa yang dikisahkan pada firman Allah selanjutnya.

Tafsir maraghi menguraikan ayat tersebut mirip berikut ; maksudnya yakni apakah enkau tidak mengerti sebuah insiden yang mena`jubkan dan agung, yang menunjukan betapa besarnya kesusahan Allah kebijakannya terhadap ashabul fiil yang berusaha menghancurkan ka`bah. Hal ini sulit dianalisa alasannya adalah musababnya, karna belum pernah terjadi gerombolan burung menyerang satu kaum saja sementara kaum yang lain tidak diserang. Semua itu gejala akal yang maha menertibkan dan dilaksanakan untuk menjaga ka`bah. Secara mendalam ayat ini menandakan perumpamaan melihat untuk pemahaman mengenali. Konsekwensiya adalah peristiwa mutlak benar dan telah diketahui , sehingga esensi mengetahui dalam hal kejelasannya setara dengan pengetahuan yang didasarkan pada penglihatan dan kesaksian.

Korelasi ayat tersebut dengan ayat berikut :

(bukankah dia menjadikan akal busuk mereka itu tidak berguna). (Q.S al-Fiil : 2).

Dalam tafsir jalalain kata ألم يجعل maksudnya sudah menjadikan dalam rangka menghancurkan ka`bah فى تضليل maksudnya menjerumuskan mereka kedalam kerugian dan kebinasaan.

Dalam tafsir maraghi diterangkan bahwa sesungguhnya kalian menyaksikan apa yang sudah dilaksanakan Allah dengan menggagalkan usha mereka. Sehingga menjadi pudar usaha yang mereka susun secara baik sebelumnya.

Korelasi yang terjadi pada ayat tersebut yakni sifatnya berkesesuaian yakni ayat yang pertama menggambarkan bagaimana antisipasi serdadu bergajah dalam menghancurkan ka`bah yang diridhai allah, kemudian ayat kedua dikuatkan oleh Allah bahwa perjuangan tersebut ialah kesia-siaan.

2. Munasabah Antara Satu Surat Dengan Surat Yang Lainnya

فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ
(kemudian ia menyebabkan mereka mirip daun-daun yang dimakan)

Penafsiran dalam jalalain yakni ; bab daun yang dikonsumsi oleh ternak, diinjak dan dicabik-cabiknya. Maksudnya Allah akan merusak setiap orang dengan watu yang ada padanya dan termaktub pada kerikil itu nama orang yang hendak dikenainya. Dan watu itu lebih besar dari pada adasah dan lebih kecil dari biji kacang Hums yang dapat menembus topi baja yang berlangsung kaki beserta gajahnya, kemudian kerikil itu jatuh ketanah, sehabis perihal tubuh mereka, peristiwa itu terjadi pada tahun kelahiran nabi.

Kemudian penafsiran dalam maraghi adalah ; maka menimbulkan keadaan mereka bagaikan dedaunan yang rusak atau dimakan ulat /hama. Dengan kata lain mereka bagaikan dedaunan yang dimakan binatang ternak dan bab yang lain awut-awutan keluar dari mulut ternak setelah dikunyah.

Kolerasi ayat tersebut permulaan surat al-q’uraisy. Dalam penafsiran jalalain yaitu ;

(karna kebiasaan orang-orang quraisy ialah kebiasaan mereka)

Maksudnya kebiasaan yang terakhir yakni memperlihatkan penitikberatan pada kebiasaan sebelumnya.
Kemudian dalam tafsir maraghi diungkapkan sebagi berikut ;

(karna kebiasaan orang quraisy adalah kebiasaan mereka berpergian pada demam isu hambar dan panas).

Seyogyanya kaum quraisy menyembah tuhannya sebagi rasa syukur atas karunianya yang sudah menjadikan mereka selaku kaum pedangang yang banyak berpergian, sebagai akhir dari negeri yang tempati tandus. Bagi mereka berupa suatu kebiasaan melakukan perjalanan melaksanakan perjalanan untuk jualan dimusim dinggin ke Yaman. Mereka berbelanja wewangian, rempah-rempah yang didatangkan dari India dan Teluk persi, lalu di pasarkan kenegeri mereka. Ketika animo panas mereka pergi ke Syam untuk berbelanja hasil pertanian untuk dibawa kenegri mereka yang minus.

Korelasi yang terjadi dalm surat Al-fiil dan Al-quraisy yakni ; dalam al-fiil terkandung klarifikasi wacana nikmat allah yang di anugrahkan pada penduduk Makkah. Hal ini tampak dari penjelasan surat al-fiil yang menyebutkan bahwa Allah merusak musuh-musuh mereka yang datang menghancurkan ka`bah. Kenudian pada surat al-quraisy dijelaskan ihwal nikmat Allah yang dilimpahkan terhadap mereka, yaitu terhimpunnya mereka dalam satu kesatuan yng kuat. Sehingga mereka bisa melakukan perjalanan di musim panas dan cuek dalam usaha perdagangan. Korelasi yang terjadi sifatnya alasannya-akibab.

3. Munasabah antara permulaan dengan akhir ayat pada satu surat
Munasabah yang dijelaskan di permulaan dan di final surat al-fiil ialah

(Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana tuhanmu sudah bertindak terhadap serdadu bergajah)
Ayat tersebut berkorelasi dengan ayat ;

فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ
(lalu ia menimbulkan mereka seperti daun-daun yang dikonsumsi)

Ayat diatas tidak ditafsirkan,mengenang sudah ditafsir sebelumnya.adapun munasabah yang terjadi pada surat ini yakni ; pada awal surat diterangkan pada impian pasukan bergajah yang dipimpin Abraham, untuk merusak ka`bah yang tidak di ridhai Allah . dan Allah menunjukkan kemasa kuasaannya dalam membatasi prajurit bergajah. Kemudian pada akhir surat dijelaskan balasan yang diderita oleh prajurit bergajah atas rencana buruk mereka untuk merusak .ka`bah. adapun munasabah yangterjadi sifatnya berkesesuaian.

Untuk perbedaan dua penafsiran tersebut ialah sebagai berikut :

1. Tafsir jalalain
  • Penafsirannya kadang-kadang terjadi pemenggalan kata.
  • Bahasanya ringkas
  • Penafsiran secara zahir saja, tanpa ada penekanan pad kata-kata yang bisa mengandung perbedaan persepsi
  • Penafsirnnya kadang agak kulit dicerna tujuannya karna tidak dalmnya pembahasan
2. Tafsir Maraghi
  • Penafsirannya per-ayat dengan tanpa pemengalan kata
  • Bahasanya lpebih komplek dibandingkan dengan tafsir jalalain
  • Penafsirannya agak mendalam karna adanya pemfokusan pada kata-kata yang mampu menimbulkan pesepsi berlainan, mirip pada kata
  • Penafsirannya agak mudah dipahami karna gaya bahasa yang dipakai sederhana.
  • Untuk perbedaan lebih lanjut mampu dicari sendiri yang tampaknya memerlukan perenungan (kontemplasi).
D.URGENSI MUNASABAH
Pembahasan munasabah tidak begitu mempesona dibahas oleh mahir tafsir mirip pembahsan pada ilmu al-quran lainnya (ababu an nuzul,nasakh dan mansukh dll), kondisi ini terbukti dengan sekurang-kurangnya literatur tentang munasabah itu. Namun keadaan ini bukan memiliki arti tidak penting selaku metode dalam mengetahui makna al-quran.

Disisi lain Zarkashi mensinyalir adanya manfaat mengetahui munasabah untuk menafsirkan al-quran, yakni menjadikan bab-bab kalimat menjadi satu keutuhan, yang diungkapkan dengan sling keterkaitan antara satu dan lainnya sehingga membantu andal tafsir dalm mengerti makna yang terkandung dalam al-quran.

Pengetahuan kepada munasabah tersebut bukanlah taufiqi, akan tetapi ialah ijtihat mufassir, dan buah penghayatannya kepada kemu`jizatan al-quran dan belakang layar retorika dari segi keterangannya .yang berdikari. Apabila munasabah itu ,halujs ma`nanya, keselarasan konteknya, sesuain asas kebahasaan dalam bahasa arab, maka mkunasabah itu mampu diterima.

BAB III
PENUTUP
Makalah Munasabah Al-quran

Munasabah ialah satu dari sekian banyak metode dalm mengetahui kandungan al-quran. Dalam prosesnya dibutuhkan kreatifan raso dalam mendapatkan munasabah ayat. Namun tidaklah rasio dipakai secara bebas.

Ditinjau dari sisi esensinya, maka munasabah terbagi tiga bentuk ialah munasabah satu ayat dengan ayat yang lain dalm satu surat, munasabah antara satu surat dengan surat lainnya, dan munasabah antara awal surat dengan akhir surat. Sebagi bukti jelas adanya munasnah mirip terlihat dari dua tafsir yang dipakai dalam mendapatkan munasabah tersebut.

Melihat agak rumitnya memperoleh munasabah antara satu ayat dengan ayat lainnya, maka pendidikan ialah satu solusi dalm mengatasinya. Namun tinjauan lain melihat bahwa dengan dijadikan al-quran selaku ilmu yang dipelajari terutama disekolah agama, maka untuk melancarkan proses belajar-mengajar ada baiknya pendidik mengerti munasabah, demi .memudahkan mentrnfer ilmu al-quran sampai lancarnya proses berguru-mengajar.

Daftar pustaka

  • Al-Maraghi, Ahmad Musthafa. Tafsir al-Maraghi. Mesir : Sirqah Maktabah wa Mthba’ah, 1970.
  • Al-Qattan, Manna Khalil. Mabahis fi Ulum al-Qur’an. Riyadh, tt, 1973.
  • As-Suyuthi, Imam Jalaluddin al-Itqon fi Ulumu al-Qur’an. Beirut : Dar al-Fikr, 1399 H.
  • Az-Zarkasyi, Al-Burhan fi Ulumi al-Alquran. Cairo : Darul Ihya al-Kutb al-A’rabiyah, 1957.
  • Ballentine, Thomas, dkk. Al-Alquran, Tentang Akidah &Segala Amal Ibadah Kita. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 1999.
  • Chirzin, Muhammad. Al-Qur’an dan Ulumul Qur’an. Yogyakarta : Dana Bhakti Prima Yasa, 1999.
  • Jalalain, Imamain. Tafsir al-Qur’an Azim., Indinesia, Darul Ihya’ al-Kitab al-A’rabiyyah.
  • Masjfuk Zuhdi, Pengantar Ulumul Qur`an, Surabaya : PT Bina Ilmu, 1980.
  • Shihab, M. Quraisy. Membumikan Al quran , Bandung : Mizan,1993.

Sumber http://makalahmajannaii.blogspot.com

Monday, September 21, 2020

Makalah Perihal Ayat-Ayat Perilaku Terpuji Dan Tercela

BAB I
PENDAHULUAN

Al-Alquran ialah kitab suci yang diwahyukan oleh Allah SWT terhadap Nabi Muhammad SAW. Al-Alquran ialah pegangan hidup umat insan, karena Al-Alquran mengandung segala sumber aturan, ilmu penetahuan, serta berisi tentan sistem kehidupan kita dalam keseharian. Dalam peluang ini penulis akan menjajal untuk menafsirkan ayat-ayat yang berkenaan tentang masalah dua hal yang bertentangan tetapi satu sama lain diantara keduanya tidak mampu dipisahkan adalah sikap terpuji dan tercela. Perilaku atau budpekerti setiap manusia sangatlah beragam, mulai dari yang bagus maupun perilaku yang buruk dan lazimnya menjadi sorotan penduduk dimana ia tinggal. Ditengah kehidupan moderen ini sungguh susah dalam memperoleh orang-orang yang memiliki sikap yang bagus. Kami disini akan membicarakan sebagian sikap-perilaku yang ada dalam kehidupan bermasyarakat.

BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian Akhlak
Pengertian Akhlak Secara Etimologi, perkataan "budpekerti" berasal dari bahasa Arab jama' dari bentuk mufradnya "Khuluqun" yang berdasarkan logat diartikan: akal pekerti, perangai, tingkah laku atau adab.[1] Baik kata akhlaq atau khuluq kedua-duanya dapat dijumpai di dalam al Qur'an, sebagai berikut:

و إنّك لعلى خلق عظيم
Yang Artinya :
“Dan bahu-membahu engkau (Muhammad) sungguh-sungguh berbudi pekerti yang Agung.” (Q.S. Al-Qalam, 68:4).

Sedangkan berdasarkan pendekatan secara terminologi, berikut ini beberapa pakar mengemukakan pengertian adab selaku berikut:

a) Ibn Miskawaih
Akhlak ialah keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan tindakan-tindakan tanpa melalui pertimbangan fikiran lebih dulu.[2]

b) Imam Al-Ghazali
Akhlak adalah sebuah perilaku yang mengakar dalam jiwa yang darinya lahir berbagai perbuatan dengan mudah dan gampang, tanpa perlu terhadap fikiran dan pertimbanagan. Jika perilaku itu yang darinya lahir tindakan yang baik dan terpuji, baik dari segi logika dan syara', maka beliau disebut adat yang baik. Dan jika lahir darinya perbuatan tercela, maka sikap tersebut disebut budbahasa yang jelek.[3]

c) Prof. Dr. Ahmad Amin
Sementara orang mengetahui bahwa yang disebut adab ialah keinginanyang dibiasakan. Artinya, hasratitu bila membiasakan sesuatu, kebiasaan itu dinamakan budpekerti. Menurutnya kehendak ialah ketentuan dari beberapa cita-cita insan sehabis imbang, sedang kebiasaan merupakan perbuatan yang diulang-ulang sehingga gampang melakukannya, Masing-masing dari hasratdan kebiasaan ini memiliki kekuatan, dan adonan dari kekuatan itu menimbulkan kekuatan yang lebih besar. Kekuatan besar inilah yang bernama akhlak.[4]

Jika diperhatikan dengan seksama, terlihat bahwa seluruh definisi budpekerti sebagaimana tersebut diatas tidak ada yang saling berlawanan, melainkan saling melengkapi, ialah sifat yang tertanam besar lengan berkuasa dalam jiwa yang nampak dalam tindakan lahiriah yang dilaksanakan dengan gampang, tanpa memerlukan aliran lagi dan sudah menjadi kebiasaan.

Jika dikaitkan dengan kata Islami, maka akan berupa budpekerti Islami, secara sederhana adab Islami diartikan sebagai budbahasa yang menurut anutan Islam atau budbahasa yang bersifat Islami. Akhlak Islami yakni perbuatan yang dikerjakan dengan gampang, disengaja, mendarah daging dan sumbernya menurut pada pedoman Islam. Dilihat dari sisi sifatnya yang universal, maka adab Islami juga bersifat universal.[5]

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa dalam menjabarkan budbahasa universal diharapkan santunan aliran nalar manusia dan peluang social yang terkandung dalam fatwa adab dan akhlak. Menghormati kedua orang renta misalnya ialah adab yang bersifat mutlak dan universal. Sedangkan bagaimana bentuk dan cara menghormati oarng tua itu dapat dimanifestasikan oleh hasil pemikiran insan.

Kaprikornus, budpekerti islam bersifat mengarahkan, membimbing, mendorong, membangun peradaban insan dan mengobati bagi penyakit social dari jiwa dan mental, serta tujuan berakhlak yang baik untuk menerima kebahagiaan di dunia dan alam baka.

Dengan demikian akhlak Islami itu jauh lebih sempurna dibandingkan dengan adat lainnya. Jika budbahasa lainnya cuma mengatakan ihwal hubungan dengan insan, maka etika Islami berbicara pula perihal cara bekerjasama dengan hewan, tumbuh-flora, air, udara dan lain sebagainya. Dengan cara demikian, masing masing makhluk mencicipi fungsi dan eksistensinya di dunia ini.

2. Perilaku Terpuji
Dalam kehidupan sehari-hari kita mengenal sikap atau etika salah satunya budbahasa terpuji. Adapun ayat-ayat yang mejelaskan perilaku terpuji, diantaranya:

QS. Al baqoroh 153
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ (153)
Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu sebetulnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Al Baqoroh: 153)

Melalui ayat ini Allah menerangkan perihal sabar dan pesan tersirat yang terkandung di dalam masalah mengakibatkan sabar dan salat sebagai penolong serta pembimbing. Kata (الصبر) ash-shabr/tabah yang dimaksud mencakup banyak hal: tabah menghadapi olok-olokan dan rayuan, sabar melaksanakan perintah dan menjauhi larangan, tabah dalam musibah dan kesusahan, serta sabar dalam berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan.[6] Karena bekerjsama seorang hamba itu adakalanya berada dalam kenikmatan, kemudian dia mensyukurinya; atau berada dalam cobaan, kemudian dia bersabar menanggungnya. Allah SWT menjelaskan bahwa fasilitas yang paling baik untuk menanggung segala jenis cobaan yaitu dengan sikap tabah dan banyak salat, seperti yang diterangkan di dalam firman-Nya:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ (45)
Jadikanlah tabah dan shalat sebagai penolongmu. Dan bantu-membantu yang demikian itu sangat berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu. (Al Baqoroh: 45)

Sabar itu ada dua macam, adalah sabar dalam meninggalkan hal-hal yang di haramkan dan dosa-dosa, serta sabar dalam melakukan ketaatan dan amal-amal shaleh. Adapun jenis tabah yang lain, yakni sabar dalam menanggung segala jenis musibah dan ujian, jenis inipun hukumnya wajib; perihalnya sama dengan istigfar (memohon ampun) dari segala jenis cela.[7]

Karena kesabaran membawa kepada kebaikan dan kebahagiaan, maka insan dilarang berpangku tangan, atau terbawa kesedihan oleh petaka yang dialaminya, ia harus berjuang dan berjuang. Memperjuangkan kebenaran, dan menegakkan keadilan. Dengan perilaku seperti itu diharapkan Ummat islam memiliki mental yang berpengaruh dan tidak cengeng dalam menghadapi lika-liku dan kerasnya kehidupan di dunia, sehingga insan itu akan bertambah lebih maju.

QS. Al imran 133-134
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنْ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134)

Dan bersegeralah kau kepada ampunan dari Tuhanmu dan terhadap nirwana yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (adalah) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Al Imran: 133-134)

Ayat ini, menganjurkan kenaikan upaya, melukiskan upaya itu bagaikan satu perlombaan, dan kompetisi yang memang ialah salah satu cara kenaikan mutu. Karena itu bersegeralah kau bagaikan ketergesaan seorang yang ingin mendahului yang lain menuju ampunan dari Tuhanmu dengan menyadari kesalahan dan berlombalah meraih, adalah surga yang sungguh agung yang lebarnya, yaitu luasnya selebar seluas langit dan bumi yang ditawarkan untuk al-muttaqin, yakni orang-orang yang telah mantap ketakwaannya, yang taat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Ayat ini juga menawarkan tiga kelas manusia atau jenjang sikapnya. Pertama, yang mampu menahan amarah. Kata (الكاظمين) mengandung makna penuh dan menutupnya dengan rapat. Diatas tingkat ini, yakni yang memaafkan. Kata (العافين) terambil dari kata (العفن) al-‘afn yang bararti maaf atau juga mampu diartikan menghapus. Seseorang yang memafkan orang lain, adalah meniadakan bekas luka hatinya balasan kesalahan yang dikerjakan orang lain terhadapnya. Selanjutnya, untuk meraih tingkat ketiga Allah mengingatkan bahwa yang disukainya yaitu orang-orang yang berbuat kebajikan, ialah bukan orang yang sekedar menahan amarah, atau memaafkan namun justru yang berbuat baik kepada yang pernah melaksanakan kesalahan.[8]

Untuk itu, disini kita bisa melihat tingkat-tingkat kenaikan takwa seorang mu’min. Pertama, mereka pemurah, baik dalam waktu bahagia atau dalam waktu susah. Artinya kaya atau miskin berjiwa dermawan. Naik setingkat lagi, yakni berilmu menahan amarah. Tetapi bukan tidak ada marah, karena orang yang tidak ada rasa marahnya sama sekali ketika melihat yang salah yakni orang yang tidak berperasaan. Yang dikehendaki disini, yakni kesanggupan mengendalikan diri saat murka. Ini yakni tingkat dasar. Kemudian naik setingkat lagi, yakni memberi maaf. Kemudian naik ketingkat yang diatas sekali, menahan amarah, member maaf, diiringi dengan berbuat baik, khususnya kepada orang yang hampir dimarahi dan dimaafkan itu.
Demikianlah takwa melakukan pekerjaan dibidang ini, dengan dorongan-dorongan dan motivasi-motivasinya. Marah ialah perasaan manusiawi yang diiringa dengan naiknya tekanan darah. Marah yakni salah satu dorongan yang menjadi kelengkapan penciptaan insan dan salah satu kebutuhannya. Manusia tidak dapat menundukkan kemarahan ini kecuali dengan perasaan yang halus dan lembut yang bersumber dari pancaran takwa, dan dengan kekuatan ruhiah yang bersumber dari pandangannya kepada ufuk yang lebih luas dari pada ufuk dirinya dan cakrawala kebutuhannya.

QS. An nisa’ 114
لا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلاَّ مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْراً عَظِيماً (114)

Tidak ada kebaikan pada pada umumnya bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (insan) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau menyelenggarakan perdamaian di antara insan. Dan barangsiapa yang berbuat demikian alasannya mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar. (an nisa’: 114)

Ayat ini ialah pendidikan yang sangat berguna bagi masyarakat, yaitu untuk saling terbuka, sedapat mungkin untuk tidak saling merahasiakan sesuatu. Kerahasiaan mengandung makna ketidakpercayaan sedangkan keterbukaan dan terus terperinci menunjukkan keberanian pembicara.

“tidak ada kebaikan pada pada umumnya bisikan-bisikan mereka insan”dari sini mampu dimengerti larangan Nabi saw melakukan pembicaraan diam-diam dihadapan orang lain, yang nantinya dapat menimbulkan fitnah, sehingga memunculkan rasa dengki hati dan suudzan yang mampu memecah belah umat. Maka dari itu jelahslah bahwa bisik-bisik tidak ada kebaikan atau manfaat yang bisa diambil. Mana yang tidak baiklah hendaknya dukatakan terus terperinci.

“kecuali bisikan-bisikan dari orang yang memerintahkan (insan) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia” dari tiga hal diatas tidak mengandung madzarat kalo diperbisikkam. , bahkan memang pantas ghal-hal tersebut diperbisikkan apalagi dahulu.

Menyuruh atau menganjurkan orang mengeluarkan sedekah memang kadang-kadang perlu dirahasiakan apalagi dahulu, supaya mampu diteliti siapa yang patut menerimanya. Sebab ada orang yang berhak mendapatkan sedekah atau zakat namun beliau aib memintanya atau aib tertangkap basah. Banyak orang yang memiliki budi yang dinamai iffah, yaitu cendekia menahan diri, sehingga banyak orang yang menyangka dia kaya, padahal dia berhak menerima sedekah ataupun zakat. Dan lebih baik lagi kalo diberikan secara belakang layar, sehingga yang diberi tidak merasa malu. Demikian pula, ada orang yang bisa mengeluarkan zakat, tetapi beliau enggan memperlihatkannya sebab takut riya’, maka ia menunjukkan zakat tersebut secara diam-diam.

Menyuruh perbuatan yang ma’ruf kadang kala lebih baik disampaikan secara belakang layar. Seperti orang yang melakukan perbuatan buruk ditegur dihadapan banyak orang akan menjadikan masalah lain, maka sebaiknya dijalankan teguran tersebut secara rahasia. Mendamaikan orang yang sedang bertikai sepantasnya dilaksanakan secar rahasia. Hal ini untuk menjaga nama baik kedua belah pihak

Menurut ar-razi bergotong-royong amal pada garis besarnya tidak keluar dari memberi faedah atau menafikkan madzarat,pertolongan faedah mampu bersifat material dan inilah yang diwakili oleh sedekah, sedangkan yang bersifat immateraial ditunjukkan dengan amar ma’ruf. Ma’ruf dapat mencangkup pengembangan peluangkemampuan teoritis lewat sumbangan pengetahuan, atau pengembangan potensi melalui keteladanan.[9]

Semua bisik-bisik ditempat sunyi tidak menjadikan ancaman. Asal ada niat baik rerkandung didalamnya , alasannya adalah lanjutan ayat berbunyi dengan tegas” dan barangsiapa yang berbuat demikian”yakni segala jenis bisik yang mengandung maksud baik, yang bukan hendak merugikan orang lain, alasannya adalah mengharapkan keridhaan Allah. Sebab muncul efek iktikad terhadap Tuhan dan kasih sayang sesama insan. Lantaran beramal, menyuruh berbuat baik dan mendamaikan orang yang bertengkar atau sabung. Yang nantinya Allah akan memberi pahala yang sangat besar.

Oleh karenaitu, kita selaku insan harus mempertahankan komunikasi antar insan agar tidak mengakibatkan perpecahan diantara sesama insan, alasannya komunikasi itu penting dalam sebuah kehidupan dimanapun kita berada.

3. Perilaku Tercela
Perilaku tercela yakni perilaku yang yang dipandang tidak baik dan tidak cocok dengan syara’(tidak cocok dengan pedoman islam), ayat-ayat al qur’an yang menerangkan perilaku tercela diantaranya:

QS. Al Anfal 27
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (27)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kau mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengenali. (Al Anfal: 27)

Ayat ini mengaitkan orang-orang beriman dengan amanah atau larangan berkhianat. Bahwa diantara indikator keimanan seseorang ialah sejauh mana beliau mampu melakukan amanah. Demikian pula sebaliknya bahwa ciri khas orang munafik adalah khianat dan melalaikankan amanah-amanahnya.

Kata ( تخونوا ) takhunu terambil dari kata ( الخون ) al- khaun ialah “kekurangan”, antonimnya yakni ( الوفاء ) al-wafa’ yang memiliki arti “kesempurnaan”. Selanjutnya kata “khianat” di gunakan selaku antonim dari “amanat” alasannya adalah kalau seseorang mengkhianati pihak lain maka dia telah meminimalkan kewajiban yang beliau mesti tunaikan. Kata ( أمنات ) amanat yaitu bentuk jamak dari kata ( امنة ) amanah yang terambil dari kata ( أمن ) amina yang memiliki arti “merasa kondusif”, dan “yakin”. Siapa yang dititipi amanat, maka itu berarti yang menitipkannya percaya kepadanya dan merasa kondusif bahwa sesuatu yang dititipkan itu akan diperlihara olehnya.[10]

Tetapi perlukita tahu bahwa sikap munafik ini perlu kita hindari jauh-jauh demi keberlangsungan hidup yang harmonis.

QS. Al isra’ 26-27
وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيراً (26) إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُوراً (27)
Dan berikanlah terhadap keluarga-keluarga yang akrab akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kau menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu ialah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu ialah sungguh ingkar terhadap Tuhannya. ( Al Isra’: 26-27 )

Allah SWT menyuruh terhadap kaum Muslimin semoga menunaikan hak kepada keluarga-keluarga yang erat, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Hak yang harus ditunaikan itu yaitu: Mempererat tali persaudaraan dan hubungan kasih sayang, mendatangi rumahnya dan bersikap watak, serta menolong meringankan penderitaan-penderitaan yang mereka alami.

Kata ( اتوا ) atu mempunyai arti tunjangan sempurna. Pemberian yang dimaksud bukan cuma terbatas pada hal-hal materi tetapi juga inmateri. Kata ( تبدير ) tabdzir/pemborosan dipahami oleh ulama dalam arti pengeluaran yang bukan haq, alasannya adalah itu bila seseorang menafakahkan/membelanjakan semua hartanya dalam kebaikan atau haq, maka beliau bukan seorang pemboros. Seperti Sayyidina Abu Bakar ra menyerahkan semua hartanya kepada Nabi saw dalam rangka berjihat dijalan Allah.

Kata ( إخوان ) ikhwan yakni bentuk jamak dari kata ( أخ ) akh yang bisa diterjemahkan kerabat. Kata ini pada awalnya berarti persamaan dan keharmonisan. Dari sini persamaan dalam asal usul keturunan menimbulkan persaudaraan, baik asal undangan jauh, lebih-lebih yang bersahabat. Persaudaraan setan dengan pemboros yakni persamaan sifat-sifatnya. Mereka berdua sama melakukan hal-hal yang batil, tidak pada tempatnya.Penambahan kata ( كانوا ) kanu pada bagian ayat di atas, untuk mengisyaratkan kemantapan persamaan dan persaudaraan itu.[11]

Penyifatan dengan kufur/sangat ingkar ialah peringatan keras terhadap para pemboros yang menjadi teman setan itu, bahwa persaudaraan dan kebersamaan mereka dengan setan dapat mengantar mereka pada kekufuran. Dan sikap boros itu sungguh berbahaya bagi orang yang tidak mampu mengontrol nafsunya, karena nafsu itu berkorelasi dengan sifat boros yang terang-terang merugikan insan dari segi jasmani maupun rohani.

QS. An nisa’ 148
لا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنْ الْقَوْلِ إِلاَّ مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعاً عَلِيماً (148)
Allah tidak menggemari ucapan jelek, (yang diucapkan) dengan terus terperinci kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah ialah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. ( An Nisa’: 148 )

“Allah tidaklah suka penyebaran perkataan-perkataan yang buruk.” (pangkalayat148). Kalau dikatakan Allah tidak senang, pasti Allah membencinya. Maka amatlah benci menyiar-nyiarkan atau menjelas-jelaskan perkataan yang jelek, yang kotor, yang cabul dan yang carut-marut. Yang diminati oleh Allah hanyalah kata-kata yang sopan yang tidak menyinggung perasaan, yang tidak merusak etika.

Untuk menuntun batin dan kesopanan kita, pada epilog, Tuhan menyatakan bahwa Dia selalu mendengar apa yang kita ucapkan, sopankah atau kotor, dan mengetahui perangai-perangai dan kelakuan kita yang akan bisa menjatuhkan Muru’ah (harga diri). Karena banyaknya kata kotor, ialah alamat dari kecerdikan dan batin yang memulai kotor. Padahal ummat yang beragama, sudah sebaiknya memiliki kesopanan yang tinggi.

4. Balasan Terhadap Perilaku Terpuji dan Tercela
Orang melakukan pekerjaan mesti ada ganjarannya begitupun dengan perilaku terpuji dan tercela. Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan tindakan insan, oleh sebab itu Allah membalas sikap-perilaku yang dijalankan manusia sebagaimana yang di sebutkan dalam ayat-ayat berikut:

QS. Al an’am 160
مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلا يُجْزَى إِلاَّ مِثْلَهَا وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ (160)
Barangsiapa menenteng amal yang bagus, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka ia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). (Al An’am: 160)

Ayat ini menjelaskan bahwa pembalasan Allah SWT. sungguh adil, ialah barang siapa diantara manusia yang datang membawa amal yang baik, ialah berdasar doktrin yang benar dan ketulusan hati, maka baginya pahala sepuluh kali lipatnya yaitu sepuluh kali lipat amalnya sebagai karunia dari Allah SWT; dan barang siapa yang menjinjing tindakan yang buruk maka beliau tidak diberi pembalasan melainkan sebanding dengan kejahatannya, itu pun bila allah menjatuhkan hukuman atasnya, namun tak sedikit keburukan hamba yang dimaafkannya. Kalau allah menjatuhkan sanksi, maka itu sungguh adil, dan dengan demikian mereka yakni yang melaksanakan kejahatan itu sedikitpun tidak dianiaya tetapi masing-masing akan mendapatkan hukuman setimpal dengan dosanya. Adapun yang berbuat kebajikan, maka bukan saja mereka tidak dianiaya, bukan juga mereka diberi ganjaran yang adil, namun mereka menerima anugerah dari Allah SWT.[12]

Ayat ini menyuruh kita biar memperbanyak berbuat baik. Artinya yaitu barang siapa yang dating terhadap Allah di hari akhir zaman dengan sifat-sifat yang bagus, maka dia akan mendapat ganjaran atau pahala dari Allah SWT.

Dan barang siapa yang nantinya menghadap Allah dengan sifat-sifat jahat yang telah tertanam dalam dirinya, maka ganjaran siksaan yang akan diterimnya yaitu setimpal dengan kejahatannya. Artinya suatu kejahatan tidaklah akan dibalas dengan sepuluh kali ganda siksaan. Maka ayat ini menawarkan kejelasan benar bagi kita bantu-membantu sifat Rohman dan Rohim Allah lebih berpokok dari sifat murkanya Allah SWT.

QS. An-Nisa : 79
مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنْ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولاً وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيداً (79)
Apa saja lezat yang kau dapatkan adalah dari Allah, dan apa saja peristiwa yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap insan. Dan cukuplah Allah menjadi saksi. (An-Nisa’: 79)

Ayat ini memastikan sisi upaya manusia yang berkaitan dengan sebab dan balasan. Hukum-hukum alam dan kemasyrakatan cukup banyak dan bermacam-macam. Dampak baik dan imbas jelek untuk setiap gerak dan langkah-langkah telah ditetapkan Allah melalaui aturan-hukum tersebut, manusia diberi kemampuan memilah dan memilih, dan masing-masing akan mendapatkan hasil pilihannya. Allah sendiri melalui perintah dan larangan-Nya mengharapkan, bahkan menganjurkan terhadap insan agar meraih kebaikan dan nikmat-Nya, alasannya adalah itu ditegaskan-Nya bahwa, apa saja nikmat yang engkau dapatkan, wahai Muhammad dan semua manusia, yakni dari Allah, ialah Dia yang mewujudkan anugerah-Nya, dan apa saja peristiwa yang menimpamu, engkau wahai Muhammad dan siapa saja selain kau, maka tragedi itu dari kesalahan dirimu sendiri, sebab Kami mengutusmu tidak lain hanya menjadi Rasul untuk menyampaikan tuntutan-tuntutan Allah kepada segenap manusia, kapan dan di mana pun mereka berada. Kami mengutusmu hanya menjadi Rasul, bukan seorang yang dapat menentukan baik dan buruk sesuatu sehingga bukan alasannya terjadinya peristiwa atau kejelekan pada masamu lalu dijadikan bukti bahwa engkau bukan Rasul. Kalaulah mereka mengira demikian, biarkan saja. Dan cukuplah Allah menjadi saksi atas kebenaranmu.

Ayat diatas secara redaksional ditujukan terhadap Rasulullah saw., tetapi kandungannya utamanya ditujukan kepada mereka yang menyatakan bahwa keburukan bersumber dari Nabi atau karenakesialan yang menyertai beliau. Pengarahan redaksi ayat ini kepada Nabi menerangkan bahwa jika beliau yang sedemikian bersahabat dengan kedudukannya di sisi Allah serta sedemikian berpengaruh ketakwaannya terhadap Allah tetap tidak dapat luput dari sunnatullah dan takdir-Nya, maka tentu lebih-lebih lainnya. Allah tidak membedakan seseorang dari lainnya dalaqm hal sunnatullah ini.[13]

Setiap kebaikan yang diperoleh oleh orang mukmin, bahu-membahu berasal dari karunia dan kemurahan Allah, di ayat ini ada dua hal yang perlu dimengerti :

Ø Bahwa segala sesuatu yang berasal dari sisi Allah, dalam arti bahwa Dialah yang membuat segala sesuatu dan menggariskan aturan-aturan.
Ø Manusia terjerumus kedalam keburukan tidak lain disebabkan ia gegabah untuk mengetahui sunnah-sunnah. Sesuatu dikatakan jelek, sebenarnya disebabkan oleh tindakan manusia itu sendiri.

Berdasarkan persepsi ini, maka kebaikan berasal dari karunia Allah secara mutlak, dan keburukan berasal dari diri manusia sendiri secara mutlak. Masing-masing dari dua kemutlakan ini mempunyai posisi pembicaraan tersendiri. Telah banyak dasar yang menyatakan bahwa ketaatan terhadap Allah merupakan salah satu alasannya menerima nikmat, dan bahwa kedurhakaaan kepadanya merupakan salah satu jalan yang mendatangkan kesengsaraan. Ketaatan kepadanya yakni mengikuti sunnah-sunnah-Nya dan memakai jalan-jalan yang telah diberi-Nya pada daerah mestinya.

“Kami mengutusmu menjadi Rasul terhadap segenap insan”. Kewajiban Rasul hanyalah memberikan anutan Allah. Dia tidak mempunyai problem dan campur dalam perkara kebaikan dan kejelekan yang menimpa insan, sebab beliau diutus memberikan anutan menyampaikan hidayah.
“Dan cukuplah Allah menjadi saksi”. Sesungguhya rasul diutus terhadap seluruh umat manusia cuma sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan, bukan sebagai orang yang berkuasa atau untuk mengubah dan mengganti hukum-hukum yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT

QS. Hud : 114
وَأَقِمْ الصَّلاةَ طَرَفِي النَّهَارِ وَزُلَفاً مِنْ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ (114)
Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan ketimbang malam. Sesungguhnya perbuatan-tindakan yang bagus itu menghapuskan (dosa) tindakan-perbuatan yang jelek. Itulah perayaan bagi orang-orang yang ingat. (Hud: 114)

Ayat ini mengajarkan: “ dan dirikanlah shalat dengan teratur dan benar sesuai dengan ketentuan, rukun, syarat dan sunnah-sunnahnya pada kedua tepi siang adalah pagi dan petang, atau Subuh, Dzuhur dan Ashar dan pada bab permulaan dibandingkan dengan malam ialah Maghrib dan Isya, dan juga mampu tergolong Witir dan Tahajud. Yang demikian itu dapat menyucikan jiwa dan mengalahkan kecenderungan nafsu untuk berbuat kejahatan. Sesungguhnya kebajikan-kebajikan itu yaitu tindakan-tindakan baik seperti shalat, zakat, shadakah, istighfar, dan aneka ketaatan lain mampu menghapuskan dosa kecil yang ialah kejelekan-kejelekan yaitu perbuatan-tindakan buruk yang tidak mudah dihindari manusia. Adapun dosa besar, maka itu memerlukan ketulusan hati untuk bertaubat, permintaan ampun secara khusus dan tekad untuk tidak mengulanginya. Iitu ialah isyarat -isyarat yang disampaikan sebelum ini yang sungguh tinggi nilainya dan jauh kedudukannya itulah perayaan yang sungguh bermanfaat bagi orang-orang yang siap menerimanya dan yang ingat tidak melupakan Allah.

Disamping mengandung makna bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosa kecil jika seseorang sudah melakukan amal-amal saleh, juga mengandung makna bahwa amal-amal saleh yang dikerjakan seseorang secara ikhlas dan konsisten akan mampu membentengi dirinya sehingga dengan mudah dia mampu terhindar dari kejelekan-keburukan. Makna seperti ini sejalan juga dengan firman Allah dalam surah al-Ankabut ayat 45, yang artinya “ sesungguhnya shalat menangkal tindakan keji dan munkar "[14]

Dalam tafsir at-Tabari diterangkan bahwa ada beberapa faedah yang dikandung ayat ini yakni penjelasan untuk mendirikan salat wajib. Ayat ini menjelaskan secara ringkas semua waktu shalat yang wajib. Karena kedua tepi siang mencakup shalat subuh, shalat dzuhur dan shalat ashar. Adapun bagian permulaan malam meliputi shalat maghrib dan isya. Namun Imam Ath-Thabari lebih menentukan pendapat bahwa bahwa shalat pada kedua tepi siang itu tujuannya adalah shalat subuh dan maghrib.

Ayat ini menerangkan bahwa shalat tergolong diantara al-hasanat (amal saleh). Ayat ini juga menjelaskan bahwa al-Quran sebagai mau’izhan (nasihat) bagi mereka yang mengingat-ingat. Orang-orang yang ingat disebut secara khusus disini sebab mereka yang menerima manfaat dari nasihat itu.

QS. Al-Hijr : 39-40
قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لأزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأَرْضِ وَلأغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ (39) إِلاَّ عِبَادَكَ مِنْهُمْ الْمُخْلَصِينَ (40)

Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh alasannya adalah Engkau Telah menetapkan bahwa Aku sesat, niscaya Aku akan menjadikan mereka menatap baik (perbuatan ma'siat) di paras bumi, dan niscaya Aku akan menyesatkan mereka seluruhnya. Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka".(Al-Hijr: 39-40)

setelah Allah memberikan bahwa Iblis akan termasuk mereka yang ditangguhkan hidupnya sampai waktu tertentu, Iblis berkata, “Tuhanku, disebabkan oleh penyesatan-Mu terhadap diriku yakni kutukan-Mu terhadapku sampai hari lalu, maka niscaya aku akan memperindah bagi mereka yakni menimbulkan mereka menatap baik tindakan maksiat serta segala jenis kegiatan di muka bumi yang mengalihkan mereka dari dedikasi kepada-Mu, dan niscaya pula dengan demikian aku akan mampu menyesatkan mereka seluruhnya dari jalan lurus menuju kebahagiaan duniawi dan ukhrawi. Upaya tersebut akan menjamah semua manusia, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlas diantara mereka, ialah yang engkau pilih alasannya mereka telah menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Mu.[15]

Allah berfirman menginformasikan bahwa iblis berkata kepadanya, “Ya Tuhanku, dikarenakan engkau sudah menakdirkan saya kehilangan arah, maka pasti saya akan menyesatkan anak cucu adam dengan membujuk mereka memandang baik segala tindakan maksiat dan mendorong mereka dengan segala tipu daya biar mereka menjauhi segala perintahmu dan niscaya saya akan berhasil dalam usaha penyesatanku ini kecuali kepada beberapa hamba-hamba-Mu yang memperoleh taufik dan hidayah untuk menaati segala petunjuk dan perintahmu.

QS. Muhammad : 15
مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ فِيهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍ غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِنْ عَسَلٍ مُصَفًّى وَلَهُمْ فِيهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَمَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِي النَّارِ وَسُقُوا مَاءً حَمِيماً فَقَطَّعَ أَمْعَاءَهُمْ (15)
Perumpamaan (penghuni) jannah yang dijanjikan terhadap orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak beubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang yummy rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka, sama dengan orang yang infinit dalam jahannam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya. (Muhammad: 15)

Ayat di atas menguraikan sekelumit dari ganjaran yang di janjikan kepada orang-orang bertakwa.Kata ( مثل ) matsal dipakai dalam arti istilah yang aneh atau menakjubkan. Perlu diingat bahwa matsal bukan memiliki arti persamaan antara dua hal, ia hanya istilah. Memang ada perbedaan antara ( مثل ) matsal dan ( مثل ) mitsil. Yang kedua ( mitsil ) mengandung makna persamaan bahkan keserupaan atau kemiripan, sedangkan matsal tekanannya lebih banyak pada kondisi atau sifat yang mengagumkan yang dilukiskan oleh kalimat matsal itu. Keadaan surge tidak dapat dipersamakan dengan sesuatu, alasannya adalah mirip sabda Nabi saw : “Di sana terdapat apa yang belum pernah dilihat mata, atau didengar oleh telinga dan terlintas dalam benak insan.”

Kata ( أنهار ) anhar ialah bentuk jamak dari kata ( نهر ) nahar yaitu pemikiran air yang sangat besar yang umumnya bukan buatan manusia namun alami. Dalam kehidupan dunia, kita tidak memperoleh sungai yang mengalir darinya susu, madu atau khamr. Anda mampu mengetahui kata anhar di sini dalam pemahaman metafora ialah di sama akan ditemukan dengan gampang dan banyak minuman-minuman itu seperti halnya mendapatkan dalam kehidupan dunia ini ajaran air. Seperti yang di kemukakan di atas bahwa ini ialah matsal yang bukan mempunyai arti sama.[16]

5. Hikmah hikmah melakukan perilaku terpuji dan menjauhi perilaku tercela
a. Menumbuhkan rasa solidaritas sesama muslim atau ukhuah islamiyah, sehingga persaudaraan senantiasa terpupuk dengan kuat
b. Menumbuhkan perilaku disiplin dan sikap mental yang berpengaruh dalam kehidupan bermasyarakat
c. Mendidik jiwa semoga biasa dan mampu menguasai diri, sehingga gampang mengerjakan segala kebaikan dan meninggalkan segala larangan
d. Disenangi sobat dan disegani lawan,
e. Sebuah pembuktian ketaatan dan ketakwaan seorang manusia terhadap Allah, sehingga beliau makin akrab dengan sang pencipta
f. Terhindar dari penyakit-penyakit lahir dan batin yang berlebihan, alasannya penyakit ini sungguh berbahaya bagi diri insan itu sendiri dan orang lain, sehingga mampu menghancurkan antara habluminallah, habluminannas, dan habluminalalam

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Dari beberapa ayat Al-Qur’an yang menerangkan ihwal perilaku manusia, kita bisa mengetahui sebernarnya insan adalah makhluk yang lemah namun memiliki impian kuat untuk menguasai dunia. Keinginan tersebut tidak seimbang dengan ketahanan batin manusia yang banyak mengeluh ketika menerima cobaan. Yang perlu di ingat, bantu-membantu syetan akan terus menarik kita ke lembah kehancuran. Dia merasa dirinya terusir dan terlaknat balasan ulah manusia. Untuk itu, kita haruslah mempertahankan diri kita dengan melakukan apa yang Allah perintahkan kepada kita dengan sabar dan nrimo alasannya semua dari Allah dan akan kembali terhadap-Nya. Mudah-mudahan kita menjadi kalangan yang mujur di hari simpulan seperti yang dicontohkan didalam Al-Qur’an supaya diri kita tidak merugi pada hari pembalasan kelak.

DAFTAR PUSTAKA
  • Ad-Dimasyqi, Ibnu Kasir. 2000. Terjemah Tafsir Ibnu Kasir Juz 2. Bandung:
  • Sinar Baru Algensindo
  • Zahruddin. 2004. Pengantar Ilmu Akhlak, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
  • Ardani, Moh. 2005. Akhlak Tasawuf, Jakarta: PT. Mitra Cahaya Utama
  • Nata, Abuddin. 2003. Akhlak Tasawuf, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
  • Shihab, Quraish. 2000. Tafsir Al-Misbah Volume 2. Jakarta: Lentera Hati
  • _____________. 2000. Tafsir Al-Misbah volume 4. Jakarta. Lentera Hati
  • _____________. 2002. Tafsir Al-Misbah volume 3. Jakarta: Lentera Hati
  • _____________. 2002. Tafsir Al-Misbah Volume 6. Jakarta: Lentera Hati
  • _____________. 2002. Tafsir Al-Misbah Volume 7. Jakarta: Lentera Hati
  • _____________. 2004. Tafsir Al-Misbah Volume 13. Jakarta: Lentera Hati
  • _____________. 2005. Tafsir Al-Misbah volume 1. Jakarta: Lentera Hati
---------------------
[1] Zahruddin AR, Pengantar Ilmu Akhlak, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), 1
[2] Zahruddin AR, Pengantar Ilmu Akhlak, 4
[3] Prof. Dr. H. Moh. Ardani, Akhlak Tasawuf, ( PT. Mitra Cahaya Utama, 2005), 29
[4] Zahruddin AR, Pengantar Ilmu Akhlak, 4-5.
[5] Prof. Dr. H. Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), 147
[6] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah volume 1 (Jakarta: Lentera Hati, 2005), 335
[7] Imam Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi,, Terjemah Tafsir Ibnu Kasir Juz 2 (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2000), 49
[8] M. Quraisy Shihab. Tafsir Al-Misbah volume 3 (Jakarta:Lentera Hati. 2002),220
[9] M. Quraisy Shihab. Tafsir Al-Misbah volume 4 (Jakarta. Lentera Hati. 2000), 587
[10] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah (Jakarta: Leentera hati, 2005), 432
[11] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 452
[12] M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Volume 4 (Jakarta: Lentera Hati, 2000),352
[13] M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Volume 2 (Jakarta: Lentera Hati, 2000),497
[14] M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Volume 6 (Jakarta: Lentera Hati, 2002),355-357
[15] M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Volume 7 (Jakarta: Lentera Hati, 2002),128-129
[16] M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Volume 13 (Jakarta: Lentera hati, 2004),132-133

Sumber http://makalahmajannaii.blogspot.com

Sunday, September 20, 2020

Makalah Dongeng Dalam Al Quran

Pendahuluan
Tidak dapat disangsikan lagi bahwa kisah-cerita yang cermat akan digemari dan mampu mempengaruhi para pembacanya. Adalah merupakan salah satu keutamaan sastra bahwa sastra yang bagus bisa membawa para pembaca terhadap alam yang ingin diwujudkan dalam karya tersebut.

Menyoal dongeng-dongeng yang ada dalam Alquran, ummat Islam meyakini bahwa dongeng-cerita tersebut mengandung nilai-nilai filosofis dan pelajaran dalam menjalani hidup. Sekalipun demikian, tidak semua kisah-cerita yang diungkapkan dalam Quran bisa dibuktikan kebenarannya secara ilmiah. Sementara itu, sebagian kaum muslimin ada yang menganggap bahwa tidaklah semua dongeng dalam Alquran itu memang terjadi, namun cuma untuk I’tibar, tapi sebaliknya sebagian lain menilai bahwa meskipunbelum terbukti bahwa dongeng itu benar, tidaklah masuk akal bagi kaum muslimin untuk tidak meyakininya.

Dalam makalah ini, penulis akan menguraikan beberapa problem yang berkenaan dengan dongeng-dongeng dalam Quran yang dimulai dengan menguraikan batasan kisah yang diuraikan secara defenitif, ialah pengertian cerita dalam Alquran, macam-macam cerita dalam Quran, bentuk pengungkapannya, pengulangan dan tujuan kisah tersebut.

B. Pengertian Kisah Dalam Quran
Kata “cerita” berasal dari bahasa Arab yaitu qi¡¡ah. Secara etimologis, al-qi¡¡ah merupakan ism ma¡dar dari kata kerja qa¡¡a-yaqu¡¡u yang bermakna mengikutinya langkah demi langkah. Bentuk plural dari kata qi¡¡ah ini yaitu qi¡a¡. Pengertian al-Qi¡¡ah tersebut di atas mampu diketahui dari firman Allah dalam surah al-Qasas ayat 11:

وَقَالَتْ لِأُخْتِهِ قُصِّيهِ فَبَصُرَتْ بِهِ عَنْ جُنُبٍ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ(11)

Dan berkatalah ibu Musa kepada kerabat Musa yang wanita: "Ikutilah dia" Maka kelihatanlah olehnya Musa dari jauh, sedang mereka tidak mengetahuinya (QS al-Qasas: 11).

Qa¡¡a juga bisa memiliki arti menceritakan mimpi, mirip dalam firman Allah Swt:

قَالَ يَابُنَيَّ لَا تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَى إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا لَكَ كَيْدًا إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوٌّ مُبِينٌ(5)

Ayahnya berkata: "Hai anakku, janganlah kau ceritakan mimpimu itu terhadap kerabat-saudaramu, maka mereka menciptakan makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang faktual bagi insan."(QS Yusuf: 5).

Di dalam Alquran, kata qi¡¡ah juga pernah diteruskan dengan kata al-¥aqq yang mempunyai arti cerita yang benar, mirip dalam surah Ali Imran ayat 62:

إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْقَصَصُ الْحَقُّ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا اللَّهُ وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ(62)

Sesungguhnya ini ialah dongeng yang benar, dan tak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah; dan bergotong-royong Allah, Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS Ali Imran: 62).

Sedangkan qi¡¡ah menurut Mu¥ammad K±mil ¦asan secara terminologi adalah instrumen untuk mengungkapkan kehidupan atau insiden-insiden tertentu dari kehidupan yang mencakup satu atau beberapa insiden yang memiliki variabel dan fragmentasi awal dan final.

Dari defenisi di atas, tampakbahwa beliau tidak menunjukkan batasan terjadinya kejadian atau insiden tersebut. tetapi perlu dimengerti bahwa dongeng tersebut tidak terlepas dari aneka macam variabel dan memeliki alur kronologis. Berbeda halnya dengan Mann±’ Khal³l al-Qa¯¯±n yang memperlihatkan batas-batas ihwal qi¡¡ah dalam Alquran ialah tentang kondisi ummat pada kurun lalu, nabi-nabi terdahulu dan peristiwa-kejadian yang sudah terjadi.

Selanjutnya, ‘Abdul Kar³m al-Kh±¯ib menyatakan bahwa semua cerita dalam Alquran menceritakan ceritera yang terjadi pada periode lampau. Lebih lanjut, menurutnya bahwa jika dimengerti lebih mendalam, maka kata khabar dan nab±’ juga mampu memiliki arti cerita atau dongeng. Beliau juga menyatakan bahwa kata khabar berkonotasi kisah yang lebih dekat waktunya dengan zaman pemberitaan, sementara nab±’ merupakan sebuah cerita yang telah usang terjadi.

Meski Alquran banyak mengandung dongeng-cerita orang-orang pada zaman dulu, Alquran tetap saja tidak bisa dikategorikan selaku salah satu kitab Sejarah. Klaim ini mampu diterangkan paling tidak dari dua sisinya ialah bahwa meski Alquran mengandung banyak cerita, akan tetapi kisah itu sendiri bukanlah tujuan utama Alquran tersebut, yang menjadi tujuan utamanya ialah pelajaran yang mampu diambil dari kisah tersebut. Yang kedua yaitu bahwa tidak semua dongeng Alquran dapat dibuktikan kebenarannya. Menurut C. Andrew Rippin bahwa dongeng dalam Quran itu hanya bersifat salvation history ialah sejarah penyelematan. Pendapatnya ini bantu-membantu tidak jauh beda dengan penjelasan bahwa tujuan utama cerita Alquran adalah pelajaran. Meski demikian ia menyatakan bahwa kisah Alquran itu tidak semuanya dapat dibuktikan kebenarannya.

Jadi tujuan utama dari cerita-dongeng Quran yakni bukan sejarah akan tetapi lebih terhadap pesan tersirat yang terkandung di dalamnya. Sejarah terfokus terhadap peristiwa positif sedangkan pesan tersirat lebih kepada pelajaran. Hikmah yakni hasil berpikir akan sesuatu yang didasari dengan dogma terhadap Islam, yaitu mempertimbangkan secara radikal tentang sesuatu tetapi cara berpikirnya dilandasi dengan kepercayaan kepada Islam, akhirnya tersebutlah yang dinamakan pesan tersirat.

Sedangkan menyoal mitsal dan amtsal pada Quran, bahwa kedua term ini ialah sama, mitsal merupakan bentuk mufrad dari amtsal yaitu permisalan. Permisalan dalam Quran banyak didapatkan dengan berbagai bentuk istilah yang itu menyiratkan makna yang berbeda.

C. Macam-Macam Kisah Dalam Alquran
Kisah-cerita yang terdapat dalam Quran menurut Ahmad Jamil al-‘Umar³ mampu diklasifikasikan kepada tiga macam:

1. ¬Al-Qi¡¡ah al-Waqi’ah.

Adalah dongeng yang betul-betul terjadi pada kala lampau semoga insan dapat memetik pelajaran dari dongeng tersebut. Contoh cerita mirip ini adalah, cerita Q±bil dan H±bil yang terdapat dalam surah al-Maidah ayat 27-28:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ ءَادَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ(27) لَئِنْ بَسَطْتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِي مَا أَنَا بِبَاسِطٍ يَدِيَ إِلَيْكَ لِأَقْتُلَكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ(28)

Ceriterakanlah kepada mereka dongeng kedua putera Adam (Habil dan Qabil) berdasarkan yang bergotong-royong, dikala keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): "Aku niscaya membunuhmu!" Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah cuma mendapatkan (korban) dari orang-orang yang bertakwa". "Sungguh jika kau menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, saya sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya saya takut terhadap Allah, Tuhan seru sekalian alam." (QS al-Maidah: 27-28).

Pelajaran yang mampu diambil dari kisah ini adalah seperti yang diuraikan dalam ayat lain, yakni:

مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ كَتَبْنَا عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا وَلَقَدْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ بَعْدَ ذَلِكَ فِي الْأَرْضِ لَمُسْرِفُونَ(32)

Oleh alasannya itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang insan, bukan alasannya orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di wajah bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia semuanya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah ia telah memelihara kehidupan insan seluruhnya. Dan bekerjsama sudah tiba terhadap mereka rasul-rasul Kami dengan (menjinjing ) keterangan-informasi yang terperinci, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melebihi batas dalam berbuat kerusakan di paras bumi.(QS al-Maidah: 32).

2. Al-Qi¡¡ah at-Tamliyah
Yakni kisah yang bersifat simbolik, yang mungkin terjadi pada abad dan kawasan tertentu, seperti dongeng yang terdapat dalam surah al-Kahfi:

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا رَجُلَيْنِ جَعَلْنَا لِأَحَدِهِمَا جَنَّتَيْنِ مِنْ أَعْنَابٍ وَحَفَفْنَاهُمَا بِنَخْلٍ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمَا زَرْعًا(32)كِلْتَا الْجَنَّتَيْنِ ءَاتَتْ أُكُلَهَا وَلَمْ تَظْلِمْ مِنْهُ شَيْئًا وَفَجَّرْنَا خِلَالَهُمَا نَهَرًا(33)وَكَانَ لَهُ ثَمَرٌ فَقَالَ لِصَاحِبِهِ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا(34)وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ قَالَ مَا أَظُنُّ أَنْ تَبِيدَ هَذِهِ أَبَدًا(35)وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِنْ رُدِدْتُ إِلَى رَبِّي لَأَجِدَنَّ خَيْرًا مِنْهَا مُنْقَلَبًا(36)

Dan berikanlah kepada mereka sebuah ungkapan dua orang pria, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan Kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang.# Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu,# dan ia memiliki kekayaan besar, maka beliau berkata terhadap kawannya (yang mu'min) saat dia bercakap-mahir dengan ia: "Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih berpengaruh".# Dan dia memasuki kebunnya sedang beliau zalim kepada dirinya sendiri; beliau berkata: "Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya,# dan aku tidak menerka hari akhir zaman itu akan tiba, dan bila sekiranya saya di kembalikan terhadap Tuhanku, niscaya saya akan menerima daerah kembali yang lebih baik ketimbang kebun-kebun itu". (QS al-Kahfi: 32-36).

3. Al-Qi¡¡ah at-T±r³khiyah
Yakni kisah-kisah yang bersifat kesejarahan yang mengetengahkan tokoh-tokoh dan kawasan masanya. Misalnya dongeng pengejaran Fir’aun kepada nabi Musa as., seperti yang terdapat dalam surah Yunus ayat 90-91:

وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْيًا وَعَدْوًا حَتَّى إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ ءَامَنْتُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا الَّذِي ءَامَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ(90)آلْآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ(91)

Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, kemudian mereka disertai oleh Fir`aun dan bala tentaranya, alasannya hendak menganiaya dan menindas (mereka); sampai bila Fir`aun itu telah hampir karam berkatalah ia: "Saya yakin bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku tergolong orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". # Apakah sekarang (gres kau percaya), padahal bekerjsama kamu sudah durhaka semenjak dahulu, dan kau tergolong orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS Yunus: 90-91).

Lain halnya dengan al-Umari, al-Qa¯¯±n membagi cerita terhadap:

Kisah-cerita nabi-nabi terdahulu.
Kisah yang berhubungan dengan orang yang tidak disebutkan kenabiannya dan kejadian-kejadian yang terjadi pada kala lampau, seperti Dzulkarnain, A¡¥±b al-Kahfi, Talut dan Jalut.
Kisah-cerita yang terjadi pada masa Rasulullah Saw., seperti dongeng perang Badar, Uhud.

D. Bentuk Pengungkapan Kisah Dalam Alquran
Menurut Mu¥ammad Bah±’i S±lim, ada dua bentuk pengungkapan kisah-cerita dalam Quran, yaitu:

1. Kisah yang tidak runut secra zamani
Tidak ada ungkapan sejarah yang runtun dalam membuktikan keberadaan ummat, tempat, kemajuan, pergerakan, kebangkitan dan kehancurannya secara utuh. Demikian juga halnya dengan Alquran yang mengungkapkan cerita sesuai dengan maksudnya. Tidak jarang Quran menjelaskan pertumbuhan suatu ummat namun tidak menerangkan keruntuhannya, dan sebaliknya.

Terkadang, Quran menerangkan kondisi sebuah kaum atau ummat lalu setelahnya menjelaskan ummat yang sudah ada apalagi dahulu. Terkadang juga, Quran menerangkan kondisi dan pertumbuhan suatu kaum sampai kehancurannya yang umumnya bersangkutan dengan kekufuran mereka kepada Allah Swt. atau karena melaksanakan tindakan-perbuatan tidak terpuji.

Contoh dari cara pengungkapan kisah seperti ini dapat dilihat pada cerita ummat ‘Ad yang hidup di sebelah Selatan jazirah Arabia. Allah menunjukkan mereka potensi yang anggun untuk menjadi kaum yang berpengaruh secara hemat dan politik, namun lalu alasannya keingkaran mereka Allah Swt. merusak mereka.

Hal ini dapat dilihat pada surah al-Fajr ayat 6-8:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ(6)إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ(7)الَّتِي لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلَادِ(8)

Apakah kamu tidak mengamati bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum 'Aad?,# (yakni) masyarakatIram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi,# yang belum pernah dibangun (suatu kota) mirip itu, di negeri-negeri lain (QS al-Fajr: 6-8).

Selanjutnya pada ayat 11-14, Allah Swt. menyatakan:

الَّذِينَ طَغَوْا فِي الْبِلَادِ(11)فَأَكْثَرُوا فِيهَا الْفَسَادَ(12)فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍ(13)إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ(14)

Yang berbuat otoriter dalam negeri,# kemudian mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu,# alasannya adalah itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab, # bekerjsama Tuhanmu sungguh-sungguh memantau.(QS al-Fajr: 6-8).

Lalu pada ayat lain, ialah surah al-Qamar ayat 18-20, Allah Swt. berfirman:

كَذَّبَتْ عَادٌ فَكَيْفَ كَانَ عَذَابِي وَنُذُرِ(18)إِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا صَرْصَرًا فِي يَوْمِ نَحْسٍ مُسْتَمِرٍّ(19)تَنْزِعُ النَّاسَ كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ مُنْقَعِرٍ(20)
Kaum `Aadpun sudah mendustakan (pula). Maka alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-bahaya-Ku.# Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sungguh kencang pada hari nahas yang terus menerus,# yang menggelimpangkan insan seakan-akan mereka pokok korma yang tumbang.(QS al-Qamar: 18-20).

Demikian juga halnya dalam pengungkapan dongeng-cerita sebuah pribadi, kebanyakan mengikuti pengungkapan dongeng ummat mirip di atas tanpa ada keberurutan zaman, tidak dimengerti kapan dilahirkan, di mana tempatnya, mirip pada dongeng nabi Musa as. yakni pada surah Thaha ayat 9-24:

وَهَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ مُوسَى(9)إِذْ رَأَى نَارًا فَقَالَ لِأَهْلِهِ امْكُثُوا إِنِّي ءَانَسْتُ نَارًا لَعَلِّي ءَاتِيكُمْ مِنْهَا بِقَبَسٍ أَوْ أَجِدُ عَلَى النَّارِ هُدًى(10)فَلَمَّا أَتَاهَا نُودِيَ يَامُوسَى(11)إِنِّي أَنَا رَبُّكَ فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَ إِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى(12)وَأَنَا اخْتَرْتُكَ فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوحَى(13)إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي(14)إِنَّ السَّاعَةَ ءَاتِيَةٌ أَكَادُ أُخْفِيهَا لِتُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا تَسْعَى(15) فَلَا يَصُدَّنَّكَ عَنْهَا مَنْ لَا يُؤْمِنُ بِهَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَتَرْدَى(16)وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَامُوسَى(17)قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى(18)قَالَ أَلْقِهَا يَامُوسَى(19)فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى(20)قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى(21)وَاضْمُمْ يَدَكَ إِلَى جَنَاحِكَ تَخْرُجْ بَيْضَاءَ مِنْ غَيْرِ سُوءٍ ءَايَةً أُخْرَى(22)لِنُرِيَكَ مِنْ ءَايَاتِنَا الْكُبْرَى(23)اذْهَبْ إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى(24)

Apakah telah sampai kepadamu dongeng Musa? # Ketika dia melihat api, kemudian berkatalah beliau kepada keluarganya: "Tinggallah kamu (di sini), bergotong-royong aku menyaksikan api, gampang-mudahan saya dapat menjinjing sedikit daripadanya kepadamu atau aku akan menerima petunjuk di tempat api itu".# Maka ketika beliau tiba ke kawasan api itu beliau dipanggil: "Hai Musa.# Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; bahu-membahu kau berada di lembah yang suci, Thuwa.# Dan Aku telah memilih kau, maka dengarkanlah apa yang mau diwahyukan (kepadamu).# Sesungguhnya Aku ini yakni Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengenang Aku. # Sesungguhnya hari akhir zaman itu akan datang Aku merahasiakan (waktunya) agar biar tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang beliau usahakan.# Maka sekali-kali janganlah kau dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang mengakibatkan kau jadi binasa".# Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa? # Berkata Musa: "Ini adalah tongkatku, saya bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan lainnya padanya".# Allah berfirman: "Lemparkanlah beliau, hai Musa!" # Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka datang-tiba beliau menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. # Allah berfirman: "Peganglah dia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya terhadap keadaannya semula, # dan kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu niscaya dia ke luar menjadi putih cemerlang tanpa cacad, sebagai mu`jizat lainnya (pula),# untuk Kami perlihatkan kepadamu sebahagian dari gejala kekuasaan Kami yang sungguh besar, # Pergilah kepada Fir`aun; sebenarnya beliau telah melampaui batas".(QS Thaha: 9-24).

Selanjutnya, pada ayat 38-41, Allah Swt. berfirman:

إِذْ أَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّكَ مَا يُوحَى(38)أَنِ اقْذِفِيهِ فِي التَّابُوتِ فَاقْذِفِيهِ فِي الْيَمِّ فَلْيُلْقِهِ الْيَمُّ بِالسَّاحِلِ يَأْخُذْهُ عَدُوٌّ لِي وَعَدُوٌّ لَهُ وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِنِّي وَلِتُصْنَعَ عَلَى عَيْنِي(39)إِذْ تَمْشِي أُخْتُكَ فَتَقُولُ هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى مَنْ يَكْفُلُهُ فَرَجَعْنَاكَ إِلَى أُمِّكَ كَيْ تَقَرَّ عَيْنُهَا وَلَا تَحْزَنَ وَقَتَلْتَ نَفْسًا فَنَجَّيْنَاكَ مِنَ الْغَمِّ وَفَتَنَّاكَ فُتُونًا فَلَبِثْتَ سِنِينَ فِي أَهْلِ مَدْيَنَ ثُمَّ جِئْتَ عَلَى قَدَرٍ يَامُوسَى(40)وَاصْطَنَعْتُكَ لِنَفْسِي(41)

yakni dikala Kami mengilhamkan terhadap ibumu sebuah yang diilhamkan, # Yaitu: 'Letakkanlah beliau (Musa) di dalam peti, lalu lemparkanlah ia ke sungai (Nil), maka niscaya sungai itu membawanya ke tepi, semoga diambil oleh (Fir`aun) musuh-Ku dan musuhnya'. Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang tiba dari-Ku; dan agar kau diasuh di bawah pengawasan-Ku.# (yaitu) saat saudaramu yang perempuan berlangsung, lalu beliau berkata kepada (keluarga Fir`aun): 'Bolehkah aku menawarkan kepadamu orang yang hendak memeliharanya?" Maka Kami mengembalikanmu kepada ibumu, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita. Dan kau pernah membunuh seorang manusia, lalu Kami selamatkan kau dari kesulitan dan Kami sudah mencobamu dengan beberapa cobaan; maka kamu tinggal beberapa tahun di antara penduduk Mad-yan, kemudian kau datang menurut waktu yang ditetapkan hai Musa,# dan Aku telah memilihmu untuk diri-Ku.(QS Thaha: 38-41).

2. Pengulangan Kisah
Bentuk pengulangan merupakan uslb Alquran dalam seluruh objek dab lapangan deskriptif Quran yang tidak hanya dalam mengungkapkan cerita-dongeng saja. Pengulangan itu bermakna memberikan betapa besar perhatian kepada objek-objek yang diulang tersebut, agar kaum mukminin bertambah teguh imannya.

Kisah-kisah yang diulang dapat dilihat pada cerita Nabi Daud yang diulang berulang kali pada surah an-Naml dan surah Shad, atau kisah Nabi Ibrahim as. pada surah al-Anbiya’ dan al-Ankabut, atau cerita Nabi Musa as. pada surah al-Baqarah, Ali Imran, Thaha dan Maryam. Selain itu, ada juga cerita yang diuraikan hanya dalam satu surah saja, mirip cerita Q±run yang termuat dalam surah al-Qasas.

E. Pengulangan Kisah dan Tujuannya
Alquran banyak mengandung banyak sekali dongeng yang diceritakan secara berulang-ulang di aneka macam tempat dan dengan berbagai bentuk ungkapan. Pada suatu ayat, bagian-bab dongeng ada yang didahulukan, sementara di tempat lain bagian itu diakhirkan, ada yang dikemukakan dengan ringkas, ada pula yang lebih rinci.

Pada pembahasan di atas, telah disinggung secara sederhana perihal pengulangan dongeng-kisah dalam Alquran. Meskipun diulang di aneka macam daerah dan dengan berbagai macam istilah, namun intinya dongeng itu dimaksudkan untuk materi pelajaran bagi insan.

Lebih lanjut lagi, al-‘Umar³ memandang bahwa pengulangan merupakan salah satu metode Alquran dalam memaparkan suatu kisah. Menurutnya ada tiga macam bentuk pengulangan cerita dalam Quran:

1. Pengulangan dengan pemusatan kepada peristiwa atau dongeng sepanjang dongeng tersebut menyanggupi tujuan pengulangannya.
2. Pengulangan dengan menyertakan anjuran dan pedoman di antara dongeng tersebut.
3. Pengulangan dongeng semata dengan beberapa tujuan tertentu.

Tapi apakah tujuan pengulangan cerita dalam Quran semata-mata cuma untuk menawarkan nasehat, atau memberikan betapa besar perhatian kepada masalah yang diceritakan ialah kajian yang menciptakan beberapa kesimpulan yang menawan. Mann±’ al-Qa¯¯±n contohnya, beliau mengemukakan bahwa ada empat tujuan pengulangan cerita-cerita dalam Quran, yakni:

1. Untuk memperlihatkan sastra Quran sebagai sastra paling tinggi.
Hal ini mampu dijelaskan bahwa salah satu keutamaan Alquran yakni bahwa Quran dapat mengulangi cerita yang serupa dengan cara pengungkapan yang berlainan yang tetap indah. Pola pengungkapan cerita pada sebuah ayat tidak sama dengan acuan pada ayat lain yang menjadikan para pembaca tidak merasa jenuh. Selain itu, pengulangan dengan pola perumpamaan yang berlainan sehubungan dengan variabel yang berlawanan pula akan menimbulkan makna gres yang berbeda.

2. Untuk menujukkan kedigdayaan mukjizat Quran
Artinya bahwa satu teladan ungkapan cerita Quran saja tidak dapat ditandingi oleh sastrawan Arab, kemudian dengan demikian pengulangan kisah yang sama dengan pola istilah yang berlawanan bertujuan untuk menegaskan kehebatan Quran dan kelemahan mereka yang tidak mampu menandinginya.

3. Untuk menawarkan perhatian besar pada kisah tersebut.
4. Untuk menunjukkan pesan yang berlawanan atau pengulangan dengan tujuan yang berbeda pula.

Suatu kisah pada sebuah kawasan dalam Quran mampu memiliki pesan dan tujuan, saat diulangi pada tempat lain, kemungkinan pesan yang ingin disampaikan bisa berlawanan dengan pesan yang pertama.

Lebih lanjut lagi, Mann±’ al-Qa¯¯±n mengemukakan bahwa ada enam faedah dongeng di dalam Quran:

1. Menjelaskan prinsip-prinsip dakwah dan pokok syari’at yang dibawa oleh para nabi:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ(25)

Dan Kami tidak menyuruh seorang rasulpun sebelum kau, melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku".(QS al-Anbiya’; 25)

2. Mengokohkan hati nabi Mu¥ammad Saw. dan ummatnya kepada agama Islam dan memperkuat keyakinan kaum mukminin:

وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَ 606;ْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ(120)

Dan semua cerita dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, yaitu cerita-dongeng yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini sudah tiba kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.(QS Hud: 120)

3. Membenarkan eksistensi nabi-nabi terdahulu.

4. Menyingkap kepalsuan mahir kitab:

كُلُّ الطَّعَامِ كَانَ حِلًّا لِبَنِي إِسْرَائِيلَ إِلَّا مَا حَرَّمَ إِسْرَائِيلُ عَلَى نَفْسِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ تُنَزَّلَ التَّوْرَاةُ قُلْ فَأْتُوا بِالتَّوْرَاةِ فَاتْلُوهَا إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ(93)

Semua kuliner yaitu halal bagi Bani Israil melainkan kuliner yang diharamkan oleh Israil (Ya`qub) untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan. Katakanlah: "(Jika kamu mengatakan ada masakan yang diharamkan sebelum turun Taurat), maka bawalah Taurat itu, lalu bacalah dia jikalau kau orang-orang yang benar".(QS Ali Imran: 93).

5. Menujukkan kebenaran cerita nabi Mu¥ammad Saw. ihwal keadaan ummat-ummat terdahulu.

6. Memunculkan ketertarikan pembaca, alasannya adalah kisah merupakan salah satu bentuk sastra, dan juga untuk memantapkan pesan yang ada di dalamnya.

F. Kecenderungan Kisah-Kisah Jahiliyah dan Perbedaannya Dengan Kisah Alquran
Bangsa Arab, pada umumnya, ialah pedagang walaupun tidak juga sedikit yang hidup dari pertanian dan profesi yang lain. Perdagangan yang merupakan mayoritas pekerjaan orang Arab direkam dan dijadikan sebagai bahan ungkapan oleh Alquran. Banyak kata dan permisalan yang digunakan oleh Alquran “bersumber” dari istilah-ungkapan jual beli seperti mi£q±l, miz±n, ajr, jaz±’, yattajirn, ¥is±b, robi¥a, khasiro dan lain sebagainya.

Bangsa Arab juga ialah bangsa yang mempunyai minat tinggi terhadap bahasa, mereka mempunyai kebiasaan mengirimkan anak-anak mereka untuk mempelajari bahasa kepedalaman. Mereka menunjukkan apresiasi yang sangat besar bagi seseorang yang fa¡³h dan bal³gh dalam mengatakan. Sastra ialah salah satu bentuk kehormatan bagi mereka, tidak aneh bila beberapa genre sastra meningkat pesat di kalangan bangsa Arab abad itu. Mereka beradu kebolehan dalam menggubah karya sastra termasuk kisah-cerita secara berkala di pasar-pasar atau di tempat berkumpulnya orang-orang, karya yang paling cantik akan menerima kehormatan untuk ditempelkan di dinding ka’bah, seorang sastrawan akan makin populer dengan banyaknya mu’allaq±t yang beliau ciptakan.

Karya sastra Jahiliyah paling favorit lazimnya berkisar pada hal, benda atau insiden yang kasat mata, seperti perempuan, unta, raja atau perang, maka tidak heran kalau puisi yang mereka gubah haruslah memakai kata-kata atau ungkapan hiperbola -yang tentu tidak terlepas dari komponen kebohongan- untuk memperindah karyanya.

Ketika Nabi Mu¥ammad SAW membacakan ayat-ayat suci, yang di dalamnya ada genre dongeng yang indah dari sisi bahasanya untuk ketika itu, sontak saja mereka kaget dan mengakui keindahan susunan kata, fa¡l, ³z±z, ¡rah bay±niyah, bal±ghah, ma’±n³ dan bad³’nya. Selain bahasa yang merupakan keindahan Alquran kala itu juga yaitu kandungannya wacana cerita perihal ummat-ummat terdahulu.

Akan namun dikala keindahan itu disertai dengan pengukuhan Mu¥ammad ihwal risalah dan agama gres, meninggalkan agama usang dan berhala, mereka lantas tidak inginmengakui kebenaran ayat Quran sebagai firman Tuhan.

Perbedaan karya sastra, terutama kisah, Arab Jahiliyah dan kisah-dongeng yang terdapat Alquran pun kemudian terlihat pada tema, objek, pola pengungkapan dan kejujuran dalam bertutur. Perbandingan antara keduanya dapat diuraikan mirip berikut:
  • Tema-tema dongeng-dongeng Arab Jahiliyah berkisar pada kehidupan sehari-hari, sementara Quran tiba dengan tema-tema Abstrak yang relatif baru bagi mereka.
  • Objek-objek dongeng Arab cuma berkisar insiden atau hal-hal yang kasat mata, seperti kuda, perang, perempuan, istana dan taman, semantara itu Quran tiba dengan tema kaum-kaum terdahulu yang tidak tersentuh oleh para sastrawan Arab.
  • Pola pengungkapan kisah Arab Jahiliyah adalah dengan menambahi keindahan karya dengan dongeng-cerita yang menawan yang kemungkinan besar yakni bualan, sementara Alquran, selain objek yang mempesona, bahasanya juga tertata dengan indah.
  • Kisah Arab umumnya hanya ialah hiburan tanpa ada pesan mulia yang ingin disampaikan kepada pembaca, sementara semua cerita dalam Alquran senantiasa menjinjing pesan-pesan nilai mulia.
Daftar Pustaka
  • Al-Khalidi, ¢al±¥ Kisah-Kisah dalam Alquran, jil. 1. Jakarta: GIP, 1999.
  • ______________, Kisah-Kisah dalam Alquran, jil. 2. Jakarta: GIP, 1999.
  • Al-Qa¯¯±n, Mann±’ Kh±lil, Mab±¥³£ f³ Ulm al-Qur’±n. Riyad: Maktabah Ma’±rif, 1988.
  • Al-‘Umar³, A¥mad Jam±l, Dir±s±t f³ al-Qur’±n wa as-Sunnah. Kairo: D±r Ma’±rif, 1982.
  • B±q³, Mu¥ammad Fu’±d ‘Abdul, Taf¡³l Ayat al-Qur’±n al-¦ak³m. Jazirah: ‘Isa al-B±b al-Halab³, 1955.
  • Esposito, John L., Dunia Islam Modern I, terj. Eva dkk. Bandung : Mizan, 2002.
  • ¦asan, Mu¥ammad K±mil, al-Qur’±n wa al-Qi¡¡ah al-Had³£ah. Beirut: D±r Bu’£ al-Ilmiyah, 1970.
  • ¦±kim, M. Baqir, Ulumul Alquran, terj. Jakarta: Al-Huda, 2006.
  • H±sy³m³, A., Jaw±hir Al-Adab. Beirut : D±r Kutub, 1996.
  • Khalil, Munawwar, Al-Qur’an Dari Masa ke Masa. Solo:Ramadhani, 1985.
  • Kh±¯ib, ‘Abd al-Kar³m, Al-Qa¡a¡ f³ al-Qur’±n f³ Man¯qihi wa Mafhmihi. Kairo; D±r F³kri, 1965.
  • Ma’lf, Louis, al-Munjid f³ al-Lughah wa al-A’l±m. Beirut: D±r Masyriq, 1986.
  • S±lim, Mu¥ammad Bah±’i, Al-Qur’±n al-Kar³m wa as-Sulk al-Ins±n³ . Mesir: al-Maktabah al-Hai’ah al-‘²mmah li al-Kit±b, 1987.
  • Shihab, Quraish, Membumikan Alquran. Bandung: Mizan, 1992.
  • ______________, Mu’jizat Quran. Bandung: Mizan, 1998.
  • Tauf³k Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah Alquran.Yogyakarta : Forum kajian dan Budaya, 2001.

Sumber http://makalahmajannaii.blogspot.com