Showing posts with label pendampingan. Show all posts
Showing posts with label pendampingan. Show all posts

Tuesday, June 23, 2020

Blended Pendampingan


Kabupaten Pandeglang yang luas wilayahnya 2.747 km² mencakup 35 kecamatan. Jumlah sekolah menengah pertama (Sekolah Menengah Pertama) sebanyak 147 sekolah tersebar di 35 kecamatan tersebut dengan kondisi geografis yang berat, baik dari jarak maupun keadaan jalannya. Sementara tugas Pengawas Sekolah melakukan training/pendampingan sesuai SPM sekurang-kurangnya3 kali dalam sebulan dengan durasi minimal 3 jam.
Untuk menangani masalah ini, maka pendampingan dengan pinjaman jaringan internet menjadi salah satu opsi. Sehingga pendampingan mampu dilaksanakan secara langsung tatap tampang di sekolah, dan dengan berinteraksi lewat jaringan internet, atau kami sebut sebagai Blended Pendampingan.
Blog ini kami jadikan salah satu media komunikasi dalam Blended Pendampingan ini.


Sumber https://virtualpendampingan.blogspot.com

Thursday, June 18, 2020

Best Practice

Pemindaian Lembar Jawaban Peserta Didik dengan Smartphone dalam Optimalisasi Pelaksanaan Penilaian Pembelajaran

ABSTRAK
Musabikhin. 2017. Pemindaian Lembar Jawaban Peserta Didik dengan Smartphone dalam Optimalisasi Pelaksanaan Penilaian Pembelajaran.
Mengevaluasi dan menganggap hasil pembelajaran ialah salah satu tugas pokok yang harus dijalankan oleh guru. Penilaian dalam pemahaman assessment of learning dikerjakan guru bermaksud untuk mengukur hasil belajar penerima didik dalam pencapaian kompetensi dasar yang dipelajari dalam abad waktu tertentu yang harus segera terdokumentasikan sesudah pelaksanaan evaluasi untuk dapat secepatnya dijalankan analisis sehingga dapat dikenali tingkat pencapaian dan ketuntasan belajarnya serta sedini mungkin dapat ditindaklanjuti dalam pembelajaran remedial dan pengayaan.
Di abad digital kini, ponsel pintar yang ialah telepon genggam cerdas menawarkan ribuan aplikasi yang dapat dimanfaatkan dalam membantu memaksimalkan tugas pokok guru dalam evaluasi pembelajaran. Zipgrade merupakan salah satu aplikasi ponsel pintar berbasis android dan iOS yang dapat dimanfaatkan sebagai aplikasi pemindai lembar jawaban akseptor asuh (LJPD) pada evaluasi dengan butir soal pilihan jamak. Aplikasi ini mampu membantu guru melakukan penilaian hasil berguru akseptor bimbing dengan gampang dalam waktu yang singkat. Hasil pemindaian dengan aplikasi ini berupa data nilai akseptor didik, dan analisisnya.
Melalui teknik pembinaan profesionalisme guru yang dikerjakan secara sedikit demi sedikit dengan mempertimbangkan kemampuan guru dan kepala sekolah yang tidak merata dalam penguasaan TIK, tahapan pembinaan dijalankan berbasis kalangan dan kebutuhan, berjenjang di komunitas MKPS dan MGMP, serta pelatihan dan pendampingan langsung di sekolah binaan. Pembinaan dan pendampingan dilaksanakan mulai semester genap tahun pelajaran 2016/2017 di MGMP IPA, SMPN 1 Cipeucang, SMPN 5 Mandalawangi, dan SMPN 1 Karangtanjung, serta dilakukan dengan target semua Sekolah Menengah Pertama Kabupaten Pandeglang dengan training dan pendampingan oleh Pengawas Sekolah masing-masing pada semester ganjil tahun pelajaran 2017/2018.
Hasil dari pembinaan ini, Guru telah melaksanakan pemindaian LJPD dengan menggunakan smartphone di waktu yang sama seketika setelah melakukan penilaian, dan memanfaatkan data hasil pemindaian untuk dijalankan analisis hasil belajar peseta bimbing dan menindaklanjuti dalam program remedial dan pengayaan di pekan yang sama setelah analisis tamat dijalankan.
Kendala-hambatan teknis yang didapatkan pada training profesonal guru dalam pemanfaatan ponsel pintar untuk mengoptimalkan pelaksanaan penilaian pembelajaran dapat diatasi dengan membangun komitmen bersama dan saling mendukung antara guru, kepala sekolah, pengelola MGMP, dan pengawas sekolah dalam melaksanakan peran dan fungsinya serta adanya jalinan komunikasi pribadi maupun lembaga tanya jawab lewat komunitas jejaring sosial.
Pemanfaatan smartphone untuk memindai LJPD hasil evaluasi pembelajaran perlu menjadi salah satu materi pelatihan pengawas di sekolah binaan, karena sangat berguna dalam mengoptimalkan pelaksanaan evaluasi pembelajaran oleh guru, sehingga memudahkan guru dalam melaksanakan salah satu peran pokoknya, tidak sekedar mempergunakan ponsel pintar untuk komunikasi jejaring sosial dan pola hidup saja. Perlu kerjasama dan kolaborasi seluruh pengawas supaya pemanfaatan smartphone untuk memindai LJPD hasil penilaian pembelajaran ini dapat dilakukan oleh semua guru di semua Sekolah Menengah Pertama Kabupaten Pandeglang.


Kata kunci  : ponsel pintar, LJPD, zipgrade, optimalisasi, evaluasi pembelajaran


Sumber https://virtualpendampingan.blogspot.com

Kemdikbud Menggelar Perayaan Hari Guru Nasional 2017





Peringatan HGN tahun 2017 dipusatkan di halaman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada hari Sabtu 25 Nopember 2017. Upacara yang didatangi para pejabat dan karyawan di lingkungan Kemdikbud ini dipimpin oleh Mendikbud sebagai inspektur upacara. Upacara ini juga juga dibarengi Guru akseptor seminar Guru, finalis lomba Inovasi Pembelajaran, Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah penerima Simposium Tendik, peserta lomba Guru dan Pengelola PAUD, serta seruan yang lain.
Resepsi peringatan HGN dilanjutkan dengan pengumuman dan penobatan peserta terbaik kontes dan simposium tendik yang dikerjakan di ruang Gedung Insan Cendekia Kemdikbud. Mengawali program, penerima dihibur oleh performa Seni tradisional Banten berbentukpementasan Rampak Beduk dari siswa-siswi SMK Negeri 2 Pandeglang yang cukup menciptakan decak takjub penonton. Acara ini juga dimeriahkan dengan festival pendidikan dari lingkungan UPT Kemdikbud se-Indonesia yang dibuka secara resmi oleh Plt Dirjen GTK Dr. Hamid Muhammad. Pada puncak program, Mendikbud Prof. Dr. Muhajir Effendy berkesempatan memberikan sambutan dalam peringatan HGN 2017 dan menawarkan selamat kepada seluruh Guru Indonesia.
Dalam pidatonya menteri pendidikan dan kebudayaan mengajak kita semua melakukan refleksi kepada kinerja pendidik dan tenaga kependidikan serta kemdikbud. Menteri menganalogikan jika di tentara angkatan darat ada pasukan infantry (bab jalan kaki), artileri (bab senjata meriam), kavaleri (bagian tank), zeni (merencanakan fasilitas dan angkutan), pasukan bantuan kesehatan, angkutan perbekalan, dan yang paling depan yaitu pasukan invanteri yang bisa mati duluan pada dikala perang. Dalam konteks pendidikan, guru yaitu pasukan invanterinya pendidikan. Kaprikornus bila pendidikan gagal maka yang pertama bertanggung jawab ialah Guru. Karenanya guru harus betul-betul diamati, alasannya guru memilih menang tidaknya melawan kebodohan, kejumudan dan ketidakmajuan untuk Negara kita tersayang. Menteri mendoakan supaya para guru mendapatkan petunjuk Allah SWT, dapat melakukan peran dengan baik, sarat pengabdian, dan mendidik dengan hati nurani.
Mendikbud juga menyinari besarnya jumlah guru PNS yang pensiun 5 tahun terakhir yang belum terganti sebab moratorium sejak 2011, dan jumlah ini digantikan oleh guru yang diangkat oleh Kepala Sekolah yang lalu menyebabkan permasalah dengan kualifikasi, kompetensi dan sertifikasinya.
Di bab lain Mendikbud juga mengecek dualisme system pengelolaan pendidikan di bawah kemdikbud dan Kemenag yang bisa jadi berbeda patokan, karena Kemenag bersifat sentralistik sementara kemdikbud telah desentralistik. Aliran alokasi anggaran 20% dari APBN untuk pendidikan disampaikan secara rinci dimana Kemdikbud bantu-membantu cuma mengurus sekitar 9%-nya saja. Bukan memiliki arti menteri lepas tanggung jawab, namun jajaran kemdikbud terus bekerja keras memainkan peranan seperti yang diamanatkan UU dengan segala keterbatasannya. Supaya ada pengertian bareng bahwa soal pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab kemdikbud tetapi menjadi tanggungjawab banyak pihak dan juga masyarakat.
Mendikbud berharap guru yang telah mendapatkan pertolongan profesi dapat memperlihatkan prestasi dan pengabdainnya sebaik mungkin, jangan hingga guru bersertifikasi dan guru honorer kerjanya sama saja. Guru harus mampu menjadi acuan, guru bukan hanya pengajar namun juga pendidik yang tidak mampu tergantikan, tidak bisa diwakilkan apalagi guru tidak hadir di tengah siswa. Guru harus mendidik, di depan mesti menjadi acuan, di tengah memberi inpirasi, dan di belakang memberi motivasi. Menteri juga mengecek symbol/logo kemdikbud dengan hanya mencantumkan Tut Wuri Handayani sehingga guru belum bisa menjadi contoh dan memberi gagasan, tanpa berencana menyalahkan penggagas symbol tersebut. Menteri juga meminta semua sekolah mesti biasa menyanyikan lagu Indonesia Raya 3 stanza. Siswa lulusan Sekolah Dasar harus hafal Indonesia Raya 3 stanza.
Dalam implementasi pendidikan karakter diharapkan tidak ada lagi polemic tentang hari sekolah. Guru akan sama mirip ASN lainnya, dengan 5 hari kerja dan 8 jam perhari. Kurikulum tetap K13 atau kurikulum apapun yang penting gurunya yang kompeten, inovatif dan kreatif. Pendidikan akademik, pembinaan dan pengalaman menjadi modal guru dalam implementasi kurikulum secara profesional. MGMP menjadi sungguh penting untuk mengasah wawasan dan keahlian antara senior dan yunior. Kepada guru/Kepala sekolah/Pengawas sekolah contoh-teladan ini menteri berharap dapat menawarkan acuan dan contoh untuk siswa dan untuk rekan-rekan sejawatnya.

MEMBANGUN PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI KETELADANAN GURU. 
GURU MULIA KARENA KARYA.
SELAMAT HARI GURU NASIONAL TAHUN 2017
download pidato Mendikbud

Sumber https://virtualpendampingan.blogspot.com

Wednesday, June 17, 2020

E-Raport


Mengunduh, panduan dan tanya jawab wacana e-Raport Sekolah Menengah Pertama 2017/2018 di sini

Hasil pengamatan di sekolah binaan yang melakukan entri nilai dengan aplikasi e-Raport ternyata mudah dan lebih meminimalisir energi dan waktu. Operator sekolah cukup download aplikasi e-rapor, install, sinkronisasi data dengan dapodik, membuat akun guru, pemetaan guru. Kemudian guru dengan akunya masing-masing login kedalam aplikasi erapor, mampu dengan jaringan local, atau dengan dientri di komputer operator (dapodik sekolah). bareng operator, guru membuat penyusunan rencana penilaian selama 1 semester dari kelas yang diajarnya, kemudian mampu mendownload format penilaian dalam file excel yang dapat diisi secara offline.
Yang harus menjadi perhatian adalah kesesuaian data dapodik dengan data riil di sekolah. Apakah jumlah rombongan belajar, jumlah siswa setiap rombel, jumlah guru, jumlah wali kelas, guru mapel tiap kelas yang terdapat dalam dapodik sudah sesuai dengan data riil di sekolah? bila masih ada siswa yang belum tersinkronisasi di dapodik, maka siswa tersebut tidak akan mampu nilai raport. Guru mata pelajaran yang gres mengajar menggantikan guru yang lain, sementara data guru gres tersebut belum sinkron di dapodik ini juga menjadi persoalan.
maslah lain dalam entri data e-rapor adalah pengisian data nilai pendidikan Agama. Bagi siswa penganut Agama tertentu dengan jumlah minoritas di sekolah dan Guru pengampunya dari luar sekolah, sementara guru tersebut tidak terdaftar dalam dapodik sekolah.
Sumber https://virtualpendampingan.blogspot.com

Tuesday, June 16, 2020

Hots: High Order Thinking Skill

MERUMUSKAN PERTANYAAN HOTS (MENDORONG SISWA BERPIKIR TINGKAT TINGGI)
HOTS = High Order Thinking Skill

Latar Belakang
•       Pertanyaan yang diajukan guru sering cuma membutuhkan tanggapan YA atau TIDAK
•       Pertanyaan yang diajukan guru sering lebih menuntut siswa untuk mengulang pemikiran yang telah dikemukakan guru dibandingkan dengan memproduksi pemikiran siswa sendiri
•       Jenis pertanyaan yang diberikan oleh guru sangat kuat kepada kemajuan keahlian berfikir siswa.
•       Pertanyaan yang mengakibatkan siswa untuk berfikir analitis, evaluatif dan kreatif dapat melatih siswa untuk menjadi pemikir yang kritis dan inovatif
Refleksi Diri:
Apa tujuan Saudara bertanya terhadap siswa:
  •  Mengharapkan tanggapan benar?
     atau
·         Memicu berpikir siswa?
Jika Saudara menghendaki balasan benar, bagaimana kemungkinan siswa berani menjawab bila mereka tidak percaya jawabannya benar?
Jika tujuan Saudara mengajukan pertanyaan ingin mengetahui sesuatu tentang siswa, apa yang ingin Saudara ketahui?
·         pengetahuan siswa?
atau
·         proses berpikir siswa?
Proses berpikir apakah yang terpicu oleh pertanyaan Saudara?
·         siswa mengulang gagasan kerabat?
      atau
·         siswa membangun ide sendiri?
Pertanyaan tingkat tinggi (HOTS) mengakibatkan kemampuan berpikir analisis, menganalisa, dan mengkreasi, tidak sekadar mengingat (recall), menyatakan kembali (restate), atau merujuk tanpa melakukan pembuatan (recite).
Soal-soal HOTS pada konteks asesmen mengukur kemampuan:
1.    transfer satu rancangan ke konsep lainnya,
2.    memproses dan menerapkan info,
3.    mencari kaitan dari banyak sekali berita yang berlawanan- beda,
4.    menggunakan gosip untuk menyelesaikan dilema, dan
5.    menelaah ilham dan isu secara kritis.
Soal HOTS umumnya mengukur dimensi metakognitif, tidak sekadar mengukur dimensi konkret, konseptual, atau prosedural saja.
Dimensi metakognitif menggambarkan kesanggupan menghubungkan beberapa rancangan yang berbeda, menginterpretasikan, memecahkan masalah (dilema solving), memilih taktik pemecahan masalah, menemukan (discovery) sistem baru, berargumen (reasoning), dan mengambil keputusan yang tepat.
Dimensi proses berpikir dalam Taksonomi Bloom sebagaimana yang telah disempurnakan oleh Anderson & Krathwohl (2001), terdiri atas kemampuan:
1.    mengetahui (knowing-C1),
2.    memahami (understanding-C2),
3.    menerapkan (aplying-C3),
4.    menganalisis (analyzing-C4),
5.    menganalisa (evaluating-C5), dan
6.    mengkreasi (creating-C6).

Soal-soal HOTS kebanyakan mengukur kesanggupan pada ranah menganalisis (analyzing-C4), memeriksa (evaluating-C5), dan mengkreasi (creating-C6)

Sumber https://virtualpendampingan.blogspot.com

Monday, June 15, 2020

Evaluasi Pembelajaran


PENILAIAN PEMBELAJARAN


Penilaian yakni proses pengumpulan dan pembuatan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar penerima asuh. Pengumpulan berita tersebut ditempuh lewat berbagai teknik evaluasi, memakai berbagai instrumen, dan berasal dari banyak sekali sumber. Penilaian harus dikerjakan secara efektif. Oleh alasannya adalah itu, walaupun isu dikumpulkan sebanyak-banyaknya dengan banyak sekali upaya, namun kumpulan info tersebut tidak hanya lengkap dalam menawarkan gambaran, namun juga harus akurat untuk menghasilkan keputusan.

Penilaian pembelajaran didasarkan pada dua peraturan menteri yang saat ini berlaku, adalah Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 53 Tahun 2015 tentang Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik dan Satuan Pendidikan pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, dan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2016 perihal Standar Penilaian Pendidikan.

Penilaian konvensional condong dilaksanakan untuk mengukur hasil berguru akseptor bimbing. Dalam konteks ini, evaluasi ditempatkan seakan-akan selaku kegiatan yang terpisah dari proses pembelajaran. Pemanfaatan evaluasi bukan sekadar mengenali pencapaian hasil mencar ilmu, justru yang lebih penting ialah bagaimana penilaian mampu meningkatkan kemampuan peserta ajar dalam proses berguru. Penilaian sebaiknya dilakukan melalui tiga pendekatan, yaitu assessment of learning (evaluasi selesai pembelajaran), assessment for learning (evaluasi untuk pembelajaran), dan assessment as learning (evaluasi selaku pembelajaran).

Baca Panduan Penulisan Soal

Assessment of learning merupakan penilaian yang dilaksanakan sehabis proses pembelajaran simpulan. Proses pembelajaran final tidak senantiasa terjadi di tamat tahun atau di simpulan penerima ajar menuntaskan pendidikan pada jenjang tertentu. Setiap pendidik melaksanakan evaluasi yang dimaksudkan untuk menunjukkan legalisasi kepada pencapaian hasil berguru sesudah proses pembelajaran akhir, berarti pendidik tersebut melaksanakan assessment of learning. Ujian Nasional, cobaan sekolah/madrasah, dan berbagai bentuk penilaian sumatif mirip penilaian harian, evaluasi tengah semester, penilaian akhir semester dan evaluasi selesai tahun merupakan assessment of learning (penilaian hasil belajar).

Assessment for learning dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung dan lazimnya digunakan selaku dasar untuk melakukan perbaikan proses mencar ilmu mengajar. Dengan assessment for learning pendidik mampu menawarkan umpan balik terhadap proses berguru akseptor latih, memantau perkembangan, dan memilih kemajuan belajarnya. Assessment for learning juga mampu dimanfaatkan oleh pendidik untuk memajukan performa dalam memfasilitasi peserta bimbing. Berbagai bentuk penilaian formatif, misalnya peran, penyajian, proyek, tergolong kuis ialah contoh-contoh assessment for learning (penilaian untuk proses belajar).
Assessment as learning memiliki fungsi yang seperti dengan assessment for learning, adalah berfungsi sebagai formatif dan dilakukan selama proses pembelajaran berjalan. Perbedaannya, assessment as learning melibatkan penerima latih secara aktif dalam kegiatan penilaian tersebut. Peserta ajar diberi pengalaman untuk berguru menjadi penilai bagi dirinya sendiri. Penilaian diri (self assessment) dan evaluasi antar sobat merupakan pola assessment as learning. Dalam assessment as learning akseptor latih juga dapat dilibatkan dalam merumuskan mekanisme penilaian, standar, maupun rubrik/anutan penilaian sehingga mereka mengetahui dengan pasti apa yang harus dilaksanakan semoga memperoleh capaian berguru yang optimal.

Penilaian harus memperhatikan prinsip-prinsip berikut.

1. Sahih
Agar penilaian asli (valid) harus dilakukan berdasar pada data yang merefleksikan kesanggupan yang diukur. Untuk menemukan data yang dapat merefleksikan kesanggupan yang diukur harus dipakai instrumen yang sahih juga, yakni instrumen yang mengukur apa yang sebaiknya diukur.

2. Objektif
Penilaian tidak dipengaruhi oleh subjektivitas penilai. Karena itu perlu dirumuskan pemikiran evaluasi (rubrik) sehingga mampu menyamakan pandangan penilai dan meminimalisir subjektivitas. Apalagi evaluasi kinerja yang mempunyai cakupan, otentisitas, dan patokan evaluasi sungguh kompleks. Untuk penilai lebih dari satu perlu dilihat reliabilitas atau konsistensi antar penilai (inter-rater reliability) untuk menjamin objektivitas setiap penilai.

3. Adil
Penilaian tidak menguntungkan atau merugikan penerima bimbing alasannya adalah perbedaan latar belakang agama, suku, budaya, adab istiadat, status sosial ekonomi, gender, dan hal-hal lain. Perbedaan hasil evaluasi semata-mata harus disebabkan oleh berbedanya capaian berguru akseptor asuh pada kompetensi yang dinilai.

4. Terpadu
Penilaian oleh pendidik merupakan salah satu bagian yang tak terpisahkan dari acara pembelajaran. Penilaian merupakan proses untuk mengenali apakah sebuah kompetensi sudah tercapai? Kompetensi tersebut diraih lewat serangkaian acara pembelajaran. Karena itu penilaian dilarang terlepas apalagi melenceng dari pembelajaran. Penilaian harus mengacu pada proses pembelajaran yang dilaksanakan.

5. Terbuka
Prosedur penilaian dan tolok ukur evaluasi harus terbuka, terang, dan mampu dikenali oleh siapapun. Dalam masa keterbukaan seperti kini, pihak yang dinilai dan pengguna hasil evaluasi berhak tahu proses dan acuan yang dipakai dalam evaluasi, sehingga hasil penilaian dapat diterima oleh siapa saja.

6. Menyeluruh dan Berkesinambungan
Penilaian oleh pendidik mencakup semua aspek kompetensi dengan memakai aneka macam teknik penilaian yang tepat, untuk mengawasi kemajuan kemampuan peserta ajar atau penerima didik. Instrumen evaluasi yang dipakai, secara konstruk harus merepresentasikan faktor yang dinilai secara utuh. Penilaian dilakukan dengan banyak sekali teknik dan instrumen, diselenggarakan sepanjang proses pembelajaran, dan memakai pendekatan assessment as learning, for learning, dan of learning secara proporsional.

7. Sistematis
Penilaian dilaksanakan secara bermaksud dan sedikit demi sedikit dengan mengikuti tindakan baku. Penilaian seharusnya diawali dengan pemetaan. Dilakukan kenali dan analisis KD (kompetensi dasar), dan indikator ketercapaian KD. Berdasarkan hasil identifikasi dan analisis tersebut dipetakan teknik penilaian, bentuk instrumen, dan waktu evaluasi yang tepat.

8. Beracuan Kriteria
Penilaian pada kurikulum berbasis kompetensi memakai acuan kriteria. Artinya untuk menyatakan seorang penerima ajar sudah kompeten atau belum bukan dibandingkan kepada capaian sobat-teman atau kelompoknya, melainkan dibandingkan kepada persyaratan sekurang-kurangnyayang ditetapkan. Peserta yang telah mencapai kriteria sekurang-kurangnyadisebut tuntas, dapat melanjutkan pembelajaran untuk mencampai kompetensi selanjutnya, sedangkan peserta ajar yang belum meraih patokan sekurang-kurangnyawajib menempuh remedial.

9. Akuntabel
Penilaian mampu dipertanggungjawabkan, baik dari segi teknik, mekanisme, maupun risikonya. Akuntabilitas penilaian mampu dipenuhi jika evaluasi dijalankan secara sahih, objektif, adil, dan terbuka, sebagaimana telah diuraikan di atas. Bahkan perlu dipikirkan rancangan meaningfull assessment. Selain dipertanggungjawabkan teknik, mekanisme, dan balasannya, evaluasi juga harus dipertanggungjawabkan kebermaknaannya bagi peserta ajar dan proses belajarnya.


Sumber https://virtualpendampingan.blogspot.com

Panduan Penulisan Soal


Hasil belajar akseptor latih mampu dinilai dengan tujuan yang berbeda. Penilaian dapat dilakukan untuk mengetahui bahan yang belum dikuasai akseptor bimbing, untuk menyaksikan perkembangan penerima didik pada abad waktu tertentu, untuk derma nilai, untuk penempatan peserta latih, dan untuk penentuan kelulusan akseptor bimbing. Penilaian tersebut secara biasa dibedakan menjadi penilaian internal dan penilaian eksternal. Penilaian internal adalah evaluasi yang dilakukan oleh guru atau sekolah, sedangkan evaluasi eksternal dilakukan oleh institusi di luar sekolah misalnya pemerintah atau forum evaluasi yang diberi otoritas oleh pemerintah.

Penilaian eksternal dapat berupa ujian penentu kelulusan, tes seleksi masuk ke jenjang pendidikan berikut, pemantauan ketercapaian kurikulum. Pada umumnya untuk penilaian eksternal digunakan tes tertulis selaku mekanisme atau instrumen evaluasi yang baku (terstandar). Instrumen baku tersebut menjadi penting alasannya perlunya membandingkan hasil penerima dengan cara objektif. Sementara penilaian internal yang dilakukan oleh guru dengan tujuan memberikan umpan balik kepada penerima latih dan memperbaiki proses pembelajaran menggunakan instrumen yang kurang baku contohnya evaluasi unjuk kerja, portofolio. Hal ini alasannya adalah konsentrasi pada individu masing-masing penerima asuh, bukan untuk membandingkan antarpeserta bimbing. Ketika sekolah atau guru melakukan evaluasi untuk memilih kelulusan atau ketercapaian dari suatu patokan maka penggunaan instrumen yang baku menjadi penting.



Pada ketika ini umumnya tes prestasi belajar atau tes prestasi akademik memakai tes bentuk soal opsi ganda (PG) karena ketika ini tes PG dipandang sebagai tes objektif yang efisien digunakan untuk jumlah penerima besar. Untuk kala yang hendak tiba saat skoring soal isian atau essay mampu dilakukan oleh mesin, bukan mustahil soal untuk evaluasi eksternal menggunakan soal isian atau essay.

Untuk menjamin mutu soal tes yang terstandar, pengembangan tes melalui beberapa tahap. Langkah-langkah yang dilakukan untuk menyusun tes terstandar ialah (1) memilih tujuan tes; (2) memilih acuan yang akan digunakan (tolok ukur atau norma); (3) membuat kisi-kisi; (4) memilih soal-soal dari kumpulan soal yang telah ada sesuai dengan kisi-kisinya. Apabila soal yang diambil merupakan soal baru, soal-soal tersebut mesti melalui tahap telaah secara kualitatif, revisi, ujicoba, dan analisis hasil ujicoba sehingga diperoleh soal yang bagus dari segi kualitatif dan kuantitatif. Selain itu, pengadministrasian tes (pelaksanaan tes) juga dibuat kriteria. Untuk tes prestasi terstandar, soal-soal harus mengacu pada tujuan pembelajaran yang harus diraih penerima bimbing. Dalam hal ini kurikulum atau standar kompetensi lulusan (SKL) yang sudah ditetapkan bila tes tersebut akan dipakai untuk kelulusan. Proses penskorannya juga harus dilaksanakan terstandar terutama kalau ada soal berupa uraian sehingga hasil tes tersebut dapat dilihat keterbandingannya.

Untuk menjamin ketersediaan soal yang terstandar, perlu dikembangkan bank soal. Bank soal yakni kumpulan soal yang sudah teridentifikasi karakteristiknya, contohnya tingkat kesukaran, daya beda, dan penyebaran pilihan balasan (option). Pengembangan bank soal perlu dilaksanakan secara terus-menerus untuk menyanggupi aneka macam kebutuhan penggunaan.

Tahapan pengembangan bank soal meliputi:

1. Penyusunan kisi-kisi
Kisi-kisi dipakai sebagai aliran bagi penulis soal supaya diperoleh soal yang cocok dengan tujuan.

2. Penulisan soal
Soal ditulis oleh beberapa penulis soal berdasarkan kisi-kisi. Soal-soal yang dihasilkan ialah soal-soal mentah.



3. Review dan Revisi (Telaah dan Perbaikan)
Review ialah menelaah soal mentah secara kualitatif berdasarkan kaidah penulisan soal oleh penelaah soal. Hasil review soal diklasifikasikan menjadi soal baik, soal kurang baik, dan soal ditolak. Soal baik pribadi diterima, soal kurang baik perlu diperbaiki sehingga diperoleh soal yang bagus, dan soal yang ditolak dikembalikan ke penulis.

Baca dan pelajari pula:
Panduan Penyusunan Kisi-kisi soal
Teknik Penulisan soal PG

4. Perakitan soal
Soal-soal baik selanjutnya dirakit menjadi beberapa paket soal untuk diujicobakan. Pada dikala perakitan, dimasukkan beberapa soal yang berfungsi selaku soal linking antarpaket. Soal-soal linking tersebut diambil dari bank soal yang telah memiliki karakteristik soal.

5. Ujicoba soal
Paket-paket soal diujicobakan kepada penerima bimbing yang sedang menempuh jenjang pendidikan yang cocok dengan jenjang pendidikan pada tes tersebut. Misalnya, soal-soal Bahasa Indonesia kelas VIII diujikan kepada penerima latih kelas VIII di tamat tahun pelajaran atau terhadap penerima latih kelas IX di permulaan tahun pelajaran. Peserta didik dalam menjawab soal-soal tes tersebut harus serius seolah-olah ujian yang bahwasanya walaupun pada ujicoba ini yang hendak dilihat adalah kualitas soalnya bukan kompetensi penerima didik. Ujicoba soal dipakai untuk menghimpun data empirik ihwal soal berupa balasan-balasan penerima asuh terhadap soal.

6. Analisis kuantitatif
Data empirik dari hasil ujicoba dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan acara analisis, baik klasik maupun terbaru. Program analisis secara klasik menggunakan iteman. Hasil iteman mencakup daya beda, tingkat kesukaran, penyebaran option, dan cek kunci. Selanjutnya, soal-soal tersebut dianalisis memakai teori tes terbaru (Item Response Theory). Program yang mampu digunakan antara lain Bigsteps, Winsteps, Quest, Conquestuest, RUMM. Dengan memakai analisis teori tes modern dapat diperoleh isu kesesuaian soal dengan model (fit terhadap model), disamping tingkat kesukaran soal.

7. Seleksi soal
Berdasarkan hasil analisis soal, soal-soal dikelompokkan menjadi soal baik, soal perlu revisi, dan soal ditolak. Berdasarkan teori tes klasik soal-soal baik ialah soal yang memiliki daya beda tinggi, ditunjukkan dengan hubungan point biserial di atas 0,2 dan semua distraktor berfungsi. Berdasarkan teori tes modern, soal yang baik yaitu soal yang tepat (fit) dengan versi, ditunjukan oleh statistik fit, mirip infit atau outfit. Soal-soal baik dimasukkan ke dalam bank soal. Soal dengan daya beda rendah dan terdapat distraktor yang tidak berfungsi perlu direvisi. Soal yang tidak mempunyai daya beda dan sebagian distraktor tidak berfungsi ditolak.

Download Panduan Penulisan Soal Sekolah Menengah Pertama/MTs
Demikian sekilas ihwal tutorial penyusunan soal, biar berfaedah.




Sumber https://virtualpendampingan.blogspot.com